GORONTALO — Tim Huyula terdiri atas lima mahasiswa dari dua program studi berbeda. Nurul Fauziah Sabir duduk sebagai ketua, bersama Siti Muthia Sulaeman, Muh Hafizh Afriyad Lamusu, dan Rayhan Ramadhan Ali dari Program Studi Kedokteran, serta Amanda Nuraini P. Zakaria dari Program Studi Ilmu Lingkungan FMIPA.
Mereka berada di bawah bimbingan dr. Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, M.Biomed. Kombinasi latar belakang kedokteran dan ilmu lingkungan memberi warna tersendiri pada cara tim merancang solusi edukatif bagi warga pesisir.
Isi Program: Belajar Siaga Bencana Lewat Permainan dan Sampah Plastik
Program yang diusung tim berjudul "Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Anak Pesisir Tanjung Kramat melalui Pendekatan Huyula Berbasis Edukasi Interaktif dengan Pemanfaatan Alih Guna Sampah Plastik Pantai". Judul panjang itu merangkum tiga pendekatan sekaligus: kearifan lokal Huyula, permainan edukatif, dan daur ulang sampah plastik.
Sasaran utamanya adalah anak-anak di kawasan pesisir Tanjung Kramat, Kota Gorontalo. Materi kesiapsiagaan bencana disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan keseharian mereka, bukan ceramah formal di ruang kelas.
Pendekatan Huyula dipilih karena merupakan nilai gotong royong khas Gorontalo. Nilai itu diterjemahkan ke dalam aktivitas belajar bersama, sehingga anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga terbiasa saling membantu saat menghadapi situasi darurat.
Mengapa Anak Pesisir Tanjung Kramat Jadi Sasaran
Wilayah pesisir memiliki kerentanan tersendiri terhadap bencana, mulai dari cuaca ekstrem hingga gelombang tinggi. Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan karena pemahaman mereka soal prosedur evakuasi masih terbatas.
Program PKM-PM Huyula mencoba menutup celah itu sejak dini. Alih guna sampah plastik pantai dipakai sebagai media pembelajaran sekaligus pesan bahwa lingkungan bersih berkaitan erat dengan kesiapan menghadapi bencana.
Dengan cara itu, anak-anak mendapat dua manfaat sekaligus: pengetahuan mitigasi bencana dan kesadaran menjaga pesisir dari timbunan plastik.
Jalan ke Pimnas ke-39 Tahun 2026
Lolosnya tim Huyula ke Pimnas ke-39 menjadi capaian tersendiri bagi Universitas Negeri Gorontalo. Ajang itu mempertemukan tim PKM terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk memaparkan hasil karya mereka.
Bagi tim, keberhasilan ini bukan sekadar kompetisi. Program yang mereka rancang menyentuh langsung kebutuhan warga pesisir Gorontalo, terutama anak-anak yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Langkah berikutnya adalah mematangkan pelaksanaan program dan mempersiapkan presentasi di Pimnas. Jika berjalan sesuai rencana, model edukasi berbasis Huyula ini bisa direplikasi di kampung-kampung pesisir lain di Gorontalo.