GORONTALO — Vinfast datang ke Indonesia dengan strategi yang berbeda dari pendatang baru lainnya. Alih-alih hanya fokus pada penjualan unit, perusahaan di bawah naungan Vingroup ini langsung membangun infrastruktur pendukung kendaraan listrik (EV) secara masif. Langkah tersebut diyakini sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan konsumen di pasar Tanah Air.
CEO Vinfast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menegaskan bahwa kesuksesan mereknya di Vietnam tidak lepas dari ekosistem yang solid. "Yang kami lihat dari VinFast ini adalah konsistensi dan persistensi. Kita juga bisa belajar di VinFast ini dari komitmennya," ujarnya.
Komitmen itu diwujudkan melalui jaringan V-Green yang menyediakan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan stasiun penukaran baterai (swap battery) untuk motor. Fasilitas ini sudah tersebar di Pulau Jawa, Bali, dan sekitarnya, bahkan sebelum motor listrik Vinfast resmi beredar. Ekosistem ini semakin lengkap dengan kehadiran Green SM, layanan taksi listrik yang menjadi moda transportasi massal berbasis EV milik Vinfast.
Di segmen roda empat, Vinfast telah memasarkan enam model mobil listrik di Indonesia, mulai dari Vinfast VF3 hingga VF MPV 7 yang menyasar segmen entry-level hingga menengah. Sementara itu, untuk roda dua, pabrikan akan memperkenalkan tiga motor listrik sekaligus pada Sabtu (18/7), yaitu Vinfast EVO, Feliz II, dan Viper.
Menariknya, semua kendaraan listrik Vinfast bisa dibeli melalui skema sewa baterai. Khusus untuk motor listrik, sistem swap battery V-Green memungkinkan pergantian baterai yang lebih cepat dan efisien tanpa perlu menunggu pengisian daya lama.
Kariyanto menyebut bahwa faktor utama yang mendorong pertumbuhan Vinfast di Vietnam adalah kepercayaan publik terhadap produk-produk Vingroup. "Kalau kita lihat market di Vietnam sangat yakin, atau istilahnya punya komitmen yang tinggi terhadap produk-produk dari Vingroup," jelasnya.
Dengan pendekatan serupa di Indonesia, Vinfast berharap dapat mengulang kesuksesan tersebut. Keberadaan ekosistem yang lengkap diyakini menjadi pembeda utama dibandingkan merek EV lain yang hanya mengandalkan penjualan kendaraan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.