Menteri Luar Negeri Inggris Edward Samuel Miliband menyatakan Israel semakin kehilangan teman dan sekutu akibat tindakannya di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Pernyataan itu disampaikan Miliband dalam wawancara dengan siniar Inggris, The Rest is Politics, Selasa (15/9). Ia menegaskan bahwa tidak akan ada stabilitas di Timur Tengah tanpa solusi dua negara antara Palestina dan Israel.
LONDON — Menteri Luar Negeri Inggris Edward Samuel Miliband menilai Israel berada dalam posisi yang semakin terisolasi di panggung internasional. Dalam wawancara dengan siniar The Rest is Politics, ia menyebut tindakan Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat telah menggerakkan masyarakat di seluruh dunia.
"Israel sedang kehilangan teman. Mereka tidak mendapatkan sekutu baru, justru kehilangan sekutu. Mereka kehilangan sekutu di mana-mana," kata Miliband.
Pernyataan itu muncul menyusul pengumuman sanksi terbaru Inggris yang menargetkan pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki. Menurut Miliband, langkah tersebut diambil setelah muncul peringatan bahwa solusi dua negara sedang dihancurkan oleh kenyataan di lapangan.
Mengapa Inggris Menargetkan Pemukiman Ilegal, Bukan Israel Secara Keseluruhan
Miliband menegaskan bahwa rezim sanksi yang diberlakukan Inggris menyasar pendudukan ilegal, bukan upaya mendelegitimasi Israel secara umum. Ia menyebut status quo yang berjalan saat ini tidak lagi berjalan dengan baik.
"Semua langkah itu untuk mengubah keadaan tersebut. Rezim sanksi ini menargetkan pendudukan ilegal, bukan menargetkan atau mendelegitimasi Israel dengan cara apa pun," katanya.
Proyek perluasan pemukiman E1 Israel telah lama dipandang sebagai "garis merah" bagi komunitas internasional. Menurut Miliband, perluasan tersebut pada dasarnya akan memisahkan Yerusalem Timur dari Tepi Barat sehingga membuat Palestina tidak dapat berdiri sendiri.
Putusan Mahkamah Internasional dan Dorongan Perubahan Kebijakan
Miliband menyebut sejumlah faktor mendorong pemerintah Inggris mengambil langkah tersebut. Faktor-faktor itu mencakup putusan Mahkamah Internasional pada 2024 yang memerintahkan Israel mengakhiri pendudukan, membongkar pemukiman, dan membayar ganti rugi.
Selain itu, lamanya pendudukan atas wilayah Palestina serta pengungsian banyak warga Palestina turut menjadi pertimbangan. "Kita tidak boleh menyerah di hadapan terorisme pemukim," kata Miliband.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa tidak akan ada stabilitas di Timur Tengah tanpa solusi dua negara antara Palestina dan Israel. Miliband bahkan menggunakan istilah kuat untuk menggambarkan situasi di lapangan.
"Kita harus menghentikan terorisme pemukim, terorisme yang sesungguhnya. Saya menggunakan istilah itu, pembersihan etnis yang dilakukan oleh para teroris pemukim. Itulah yang sedang terjadi," tuturnya.
Miliband Kenang Pesan Ibunya Sebelum Umumkan Sanksi
Sebelum mengumumkan sanksi tersebut, Miliband mengaku memikirkan apa yang akan dikatakan ibunya, yang meninggal pada Mei lalu. Ia mengenang pesan sang ibu soal penderitaan rakyat Palestina.
"Dia (ibu saya) akan berkata, Lihatlah apa yang terjadi pada rakyat Palestina! Lihatlah apa yang terjadi pada orang-orang malang ini. Ini salah," kata Miliband.
Miliband juga menyebut baru-baru ini bertemu sekelompok orang, termasuk seorang dokter yang pernah bekerja di Gaza. Apa yang mereka sampaikan, menurut dia, sebagai sesuatu yang "benar-benar tidak bisa diungkapkan" dan "mengerikan".
Gencatan Senjata yang Dinilai Tidak Berarti
Miliband menilai tindakan Israel yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza tampaknya merupakan strategi yang benar-benar disengaja. Ia menyoroti situasi di lapangan yang disebutnya sangat buruk.
"Situasi di lapangan sangat buruk. Tidak ada yang dapat membenarkan apa yang telah terjadi di Gaza. Sejak apa yang disebut gencatan senjata, 1.200 warga Palestina telah terbunuh. Itu bukan gencatan senjata yang berarti," katanya.
Miliband menegaskan Inggris tidak boleh menyerah dalam menghadapi terorisme pemukim. Ia menyebut pihaknya berupaya mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada rakyat Israel menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober.
"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pemilu Israel pada 27 Oktober, tetapi kami berupaya mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada rakyat Israel untuk mengatakan, lihat, masyarakat internasional tidak akan tinggal diam ketika pendudukan ini terus berlangsung," ujarnya.
Sanksi Inggris: Larangan Impor hingga Sanksi Individu
Pekan lalu, Miliband mengumumkan berbagai langkah terkait pemukiman ilegal Israel. Langkah-langkah itu mencakup larangan impor barang dari pemukiman ilegal Israel.
Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan dan individu yang memfasilitasi perluasan permukiman. Sanksi tambahan dikenakan kepada ekstremis Israel yang diduga mendukung atau menghasut kekerasan terhadap warga Palestina.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari kebijakan Inggris untuk mempertahankan peluang solusi dua negara. Miliband menegaskan posisi itu sebagai fondasi stabilitas jangka panjang di kawasan.