GORONTALO — Suasana Alun-Alun Kabupaten Pati berubah menjadi galeri seni dadakan saat puluhan anak asyik menorehkan canting ke kain putih. Mereka larut dalam keseruan lomba membatik yang menjadi bagian dari rangkaian Road to Kilau Raya MNC dalam perayaan HUT Kabupaten Pati ke-703.
Bagi para ibu, momen seperti ini bukan sekadar ajang kompetisi. Lomba membatik menjadi sarana efektif untuk mengenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada anak-anak di tengah gempuran gawai dan permainan digital.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan ini berhasil mengumpulkan partisipasi sekitar 100 anak. Mereka dengan penuh semangat menuangkan imajinasi dan kreativitas masing-masing melalui motif-motif batik yang dibuat.
Kemeriahan acara kian terasa dengan kehadiran karakter kartun kesayangan anak-anak, Upin Ipin. Kehadiran tokoh animasi populer ini berhasil membuat suasana lomba semakin hidup dan ceria.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan positif ini. Beliau menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pendidikan yang telah berinisiatif menggelar lomba batik khusus untuk anak-anak di Alun-Alun Pati.
Membatik melatih konsentrasi dan kesabaran anak. Proses mencanting yang membutuhkan ketelitian membuat anak belajar fokus pada detail, sekaligus melatih koordinasi antara mata dan tangan.
Kegiatan ini juga menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri. Ketika anak mengenal dan mencintai batik, mereka ikut berperan dalam melestarikan warisan leluhur yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Bagi ibu yang ingin mengajak si kecil mencoba membatik di rumah, tidak perlu peralatan yang rumit. Kini banyak tersedia perlengkapan membatik sederhana yang aman untuk anak, seperti canting kayu dan pewarna tekstil yang tidak berbahaya.
Kegiatan seni seperti membatik memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dan imajinasinya. Setiap goresan dan warna yang dipilih anak mencerminkan dunia batin mereka yang unik.
Tak hanya itu, pengalaman mengikuti lomba bersama teman sebaya juga melatih keberanian dan kemampuan sosial anak. Mereka belajar berinteraksi, berbagi alat, dan menghargai karya orang lain.
Momen seperti inilah yang menjadi kenangan berharga bagi buah hati. Pengalaman merayakan hari jadi daerah dengan berkarya bersama teman-teman akan tersimpan lama di ingatan mereka.
Semoga semakin banyak kegiatan serupa yang melibatkan anak-anak dalam pelestarian budaya daerah. Dengan begitu, generasi penerus tidak hanya mengenal batik sebagai kain bermotif, tetapi juga memahami filosofi dan proses pembuatannya.