Kisah Musna Labaso (40) mencerminkan pukulan berlapis krisis iklim terhadap nelayan perempuan suku Bajo di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Perempuan yang mengandalkan laut sejak 2003 ini kini kehilangan perahu satu-satunya yang hancur dihantam ombak besar pada Maret lalu, sekaligus menyaksikan hasil tangkapannya merosot drastis dari 10 kilogram menjadi sekitar empat kilogram per hari.
BOALEMO — Laut yang selama lebih dari dua dekade menjadi denyut nadi kehidupan Musna Labaso kini berubah menjadi medan yang penuh ketidakpastian. Perempuan nelayan asal Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo ini terpaksa menahan diri untuk tidak melaut ke perairan lepas akibat ombak yang kian meninggi dan cuaca yang tak menentu akhir-akhir ini.
Maret menjadi kali terakhir Musna menjangkau wilayah tangkapan jauhnya. Musibah datang saat perahu kecil penopang hidupnya hancur diterjang ombak besar, memaksanya kini bergantung pada perahu nelayan lain dengan peralatan sederhana berupa tali nilon, pemberat timah, dan umpan cacing.
Penurunan hasil tangkapan dialami langsung oleh Musna. Jika sebelumnya ia mampu membawa pulang 10 kilogram ikan sehari, atau hingga 20 kilogram saat melaut dua hari ke laut lepas, kini rata-rata tangkapannya menyusut hingga tersisa sekitar empat kilogram.
"Dulu kami bisa dapat banyak. Sekarang hasilnya sedikit sekali, ikan semakin susah didapat," keluh Musna, yang mengaku jenis ikan seperti goropa, katambak, hingga oci kini makin sulit dipancing.
Persoalan yang dihadapi Musna tak berhenti di tengah laut. Ketidakpastian harga di pasaran justru memperburuk keadaan saat pasokan ikan langka. Ketika cuaca buruk melanda dan hasil tangkapan minim, daya beli masyarakat di darat yang terdampak kemarau panjang justru melemah sehingga harga jual ikan acap kali anjlok.
"Kadang kami susah dapat ikan. Kalaupun dapat, belum tentu harganya bagus," ungkap Musna, yang hidup sebatang kara dan mengaku tidak memiliki pekerjaan lain selain menggantungkan hidup pada laut.
Nasib serupa menimpa Rusmi Copa (53), sesama nelayan perempuan dan ibu tunggal dari Desa Bajo. Sampan miliknya telah hancur, memaksanya menumpang perahu milik kakaknya untuk tetap bisa melaut. Dengan sistem menumpang, hasil tangkapan ikan bobara atau oci harus dibagi, sementara biaya operasional bahan bakar mencapai 5 hingga 10 liter sekali jalan.
"Sudah keluar modal beli bahan bakar, kadang hanya dapat beberapa ekor ikan," kata Rusmi, yang kerap harus absen melaut hingga berbulan-bulan saat ombak tinggi menerjang.
Saat tangkapan sedikit dan tak ada uang yang bisa dibawa pulang, Rusmi mengandalkan ikan lolosi berukuran kecil yang dikeringkan menjadi ikan asin. Olahan sederhana ini menjadi penyambung hidup yang memastikan persediaan pangan keluarga tetap terjaga.
"Kalau tidak bisa melaut, kami harus pikirkan mau makan apa. Makanya ikan kecil-kecil itu kami simpan dan keringkan supaya ada makanan," tuturnya.
Di tengah himpitan ekonomi dan ancaman bahaya di laut, Musna masih menyimpan harapan untuk kembali berlayar mandiri. Ia berharap mendapat uluran tangan pemerintah agar bisa memiliki perahu sendiri demi menyambung hidup tanpa harus selalu menumpang.
"Saya berharap bisa punya perahu lagi agar bisa kembali mencari ikan tanpa harus selalu menumpang," ucap Musna.
Krisis iklim yang melanda kawasan pesisir Gorontalo ini membuktikan bahwa hari tanpa melaut bagi nelayan perempuan Bajo bukan sekadar kehilangan potensi penghasilan, melainkan ancaman langsung terhadap ketersediaan pangan keluarga yang harus terus mereka perjuangkan.