Dinas Ketenagakerjaan, ESDM dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo memastikan seluruh program pelatihan keterampilan dan penempatan kerja terbuka setara bagi laki-laki maupun perempuan. Kebijakan ini ditegaskan menyusul masih adanya anggapan bahwa jenis pekerjaan tertentu hanya cocok untuk satu gender. Kepala Bidang Tenaga Kerja Edwin Hulopi menyebut komposisi peserta magang di daerah itu bahkan nyaris berimbang 50 persen.
GORONTALO — Kursus menjahit tidak lagi identik dengan peserta perempuan, dan pelatihan kelistrikan bukan monopoli laki-laki. Di Gorontalo, Dinas Ketenagakerjaan, ESDM dan Transmigrasi membuka semua jenis pelatihan tanpa memilah peserta berdasarkan jenis kelamin.
Kebijakan itu berlaku mulai dari tahap seleksi hingga penempatan kerja. Calon tenaga kerja bebas memilih keahlian yang diminati, selama mampu melewati proses tes yang telah ditentukan.
Edwin Hulupi mencontohkan, pelatihan garment dan menjahit memang lebih banyak diminati perempuan, sementara otomotif cenderung didominasi laki-laki. Namun, kondisi itu tidak lantas menutup peluang bagi siapa pun.
"Di listrik kemarin, pada umumnya laki-laki yang biasa membuat instalasi, tetapi ada juga perempuan yang mendaftar. Jadi intinya kita tidak membatasi," ujarnya di Gorontalo, Rabu.
Hal serupa terjadi di kelas menjahit. Sejumlah peserta laki-laki tercatat mengikuti pelatihan yang kerap dianggap sebagai keahlian perempuan.
Pihaknya menegaskan tidak ada ketimpangan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan keterampilan. Sebelum ditempatkan, calon tenaga kerja difasilitasi pelatihan melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Latihan Kerja (BLK).
"Intinya kita tidak membatasi mengenai gender ini. Kita tidak ada ketimpangan gender terkait dengan kesempatan mereka untuk mendapatkan keterampilan," kata Edwin.
Proses penerimaan peserta pun tidak memilah calon berdasarkan laki-laki atau perempuan. Yang menentukan kelulusan adalah hasil tes.
"Pada saat dia lulus tes, berarti dia punya hak untuk mengikuti pelatihan ataupun magang di tempat kami," jelasnya.
Keterlibatan kedua gender dalam pelatihan kerja di Gorontalo disebut relatif berimbang. Pada program magang, komposisinya sekitar separuh laki-laki dan separuh perempuan.
Bahkan dalam sejumlah kegiatan, jumlah peserta perempuan yang dinyatakan lulus dapat lebih banyak ketimbang peserta laki-laki.
Untuk memantau penyerapan tenaga kerja, dinas mengandalkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta laporan Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (WLKP). Keterbukaan kesempatan ini ditujukan bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan gender.