GORONTALO — Kepastian Indonesia sebagai tuan rumah forum pimpinan parlemen dunia itu tercapai setelah ditetapkan secara aklamasi dalam ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja. Penetapan tersebut dicatat dalam Phnom Penh Declaration dan diumumkan Presiden Senat Kamboja sekaligus mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, di hadapan pimpinan parlemen dari 40 negara.
Bagi Sultan, kepercayaan ini bukan semata kebanggaan seremonial. Melalui pesan elektronik yang diterima di Bengkulu, Rabu, ia menekankan bahwa ISC ke-3 adalah peluang strategis bagi Indonesia mengambil peran lebih besar dalam dialog dan kerja sama antarparlemen dunia.
"Sebagai lembaga representasi kewilayahan, DPD RI ingin membawa perspektif daerah dan keberagaman sebagai bagian dari percakapan global," kata Sultan.
Logikanya sederhana: persoalan global tidak lagi berhenti di batas ibu kota negara. Perubahan iklim, ketimpangan pembangunan, hingga isu kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan adalah persoalan yang dirasakan langsung masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Pengalaman Indonesia menjaga persatuan di tengah perbedaan menjadi modal utama yang akan ditawarkan dalam forum tersebut. Sultan menilai negara-negara peserta membutuhkan ruang dialog yang saling memahami di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
"Indonesia adalah negara yang besar, beragam, dan memiliki pengalaman panjang dalam merawat persatuan di tengah perbedaan. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk menghadirkan forum yang membuka ruang dialog, saling memahami, dan membangun kerja sama," ujarnya.
Sejalan dengan mandat konstitusionalnya, DPD RI juga hendak menegaskan perspektif negara kepulauan dalam pembahasan global. Forum ini menjadi medium bagi parlemen memastikan aspirasi masyarakat, kepentingan perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan masuk dalam agenda bersama.
ISC merupakan forum pertemuan pimpinan parlemen berbagai negara yang membahas isu strategis dunia, mencakup perdamaian, kepatuhan terhadap hukum internasional, kesejahteraan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Gelaran ketiga yang direncanakan berlangsung di Indonesia ini menjadi penanda kepercayaan komunitas parlemen internasional terhadap posisi RI.
"Parlemen memiliki peran penting untuk memastikan aspirasi masyarakat, kepentingan perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan dapat menjadi bagian dari agenda bersama," tutur Sultan.
Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah ISC bukan sekadar menerima tamu negara. Forum ini adalah kesempatan menunjukkan bahwa negara dengan 17.000 pulau dan ratusan kelompok etnis mampu mengelola kompleksitas keberagaman menjadi kekuatan negosiasi di panggung dunia.