25 Matematikawan Peraih Fields Medal Desak OpenAI soal Etika AI

Penulis: Saiful  •  Sabtu, 12 September 2026 | 13:35:01 WIB
matematikawan peraih Fields Medal menandatangani surat terbuka yang menyoroti ancaman AI terhadap karya intelektual mereka.

GORONTALO — Sebanyak 25 matematikawan terkemuka yang semuanya pernah meraih Fields Medal—penghargaan paling bergengsi di bidang matematika—menandatangani surat terbuka yang menyoroti ancaman AI terhadap karya intelektual mereka. Surat itu dirilis di tengah ketegangan yang meningkat antara komunitas matematika dan laboratorium AI, terutama OpenAI.

Ketegangan memuncak pekan ini setelah Profesor NYU Tristan Buckmaster menuduh OpenAI menekannya agar tidak memberikan kredit kepada seorang kolaborator yang bekerja di Anthropic. Kolaborator itu disebut berperan menyelesaikan masalah matematika penting, dan Buckmaster mempertanyakan apakah OpenAI memakai karya mereka dengan Codex untuk menghasilkan pembuktian besar selama akhir pekan inferensi maraton.

Pada Kamis, OpenAI menarik sponsorshipnya dari sebuah acara matematika di CalTech setelah mendapat kritik dari peneliti universitas tersebut.

Mengapa Matematikawan Khawatir pada AI

Kemampuan model AI menyelesaikan masalah matematika dunia bisa jadi berkah bagi umat manusia. Namun para penandatangan surat menegaskan hal itu hanya terwujud jika solusinya bisa dipahami dan dikomunikasikan oleh komunitas matematika, lalu masyarakat luas.

"Often these solutions are announced in a rush, leaving no time for a proper writeup, the isolation of new methods and ideas, and citing relevant previous work of others," tulis mereka. Pembuktian OpenAI sendiri masih belum terverifikasi.

Mereka juga menyoroti persoalan atribusi dan plagiarisme yang serius. Tanpa matematikawan yang mau mengurus pengembangan dan integrasi ke dalam kanon matematika, ide-ide yang dikonsep AI tidak akan pernah benar-benar hidup. Rantai transmisi manusia antar-matematikawan pun bisa hilang.

Ketakutan akan Budaya Riset Tertutup

Sejumlah matematikawan lain mulai paranoid dan bertanya-tanya apakah penggunaan Codex mereka justru ikut disuapkan ke model baru OpenAI. Ada kekhawatiran nyata bahwa budaya riset terbuka akan terancam.

Saat ini, jika laboratorium AI melihat jalur penemuan yang berguna, mereka bisa menghabiskan puluhan juta dolar memakai LLM untuk mendahului peneliti asli menemukan pembuktian. Dinamika ini akan mendorong budaya kerahasiaan.

Surat ini menyusul Leiden Declaration yang dirilis kelompok kerja matematikawan pada Juni. Dokumen itu juga membahas bagaimana pembuktian berbasis LLM akan mengubah pekerjaan mereka, sekaligus menawarkan rekomendasi untuk matematikawan, institusi, dan pembuat kebijakan.

Nilai Matematika di Luar Sekadar Pembuktian

Seperti halnya rekayasa perangkat lunak dan bidang lain yang alur kerjanya diubah alat AI, matematikawan menemukan justifikasi pada kerja di sekitar pekerjaan itu sendiri. Nilai matematika bukan cuma pembuktian dan siapa yang mendapat kredit, melainkan superstruktur intelektual yang menumbuhkan siswa, menemukan pertanyaan dan ide baru, serta mengintegrasikannya ke peradaban manusia yang lebih luas.

Bagi yang merasa tidak terlalu peduli pada dunia pembuktian matematika berisiko tinggi, surat itu memberi peringatan: bidang yang Anda minati adalah berikutnya.

"The issues the mathematical community faces now are similar to issues that other scientific and creative professions are facing, and indicate issues that all of humanity might face: how to make sure that, as AI changes the way work is done, we do not lose sight of what that work was meant to achieve in the first place," tulis mereka.

Bagi pengguna AI di Indonesia, polemik ini relevan karena menyangkut atribusi karya, transparansi proses, dan masa depan riset terbuka di tengah adopsi AI generatif yang makin masif di kampus dan industri lokal.

Reporter: Saiful
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top