GORONTALO — Keberangkatan dipercepat bukan tanpa alasan. Karakter ombak di Tahara jauh berbeda dari spot latihan para peselancar di Bali, dan tim pelatih ingin memastikan adaptasi berjalan sebelum kompetisi dimulai.
Berdasarkan data PredictWind, ketinggian ombak di Tahara hanya berkisar 0,6 hingga 1,2 meter. Angka itu kontras dengan gelombang di Kuta, Canggu, hingga Uluwatu yang bisa mencapai 1,2 sampai 5 meter.
Perbedaan kondisi itu direspons dengan persiapan menyeluruh. Setiap atlet membawa sedikitnya lima papan surfing untuk berbagai skenario ombak, dan seluruh papan telah melewati tahap pengujian.
Tim juga mewaspadai potensi taifun yang diprediksi muncul setelah 25 September. Pelatih Dylan menyebut board testing dilakukan justru untuk mengantisipasi kemungkinan ombak besar akibat badai topan.
"Hari ini kami board testing untuk mengantisipasi kemungkinan adanya badai topan. Kemungkinan nanti ombaknya bisa besar di sana," ujar Dylan di Pantai Berawa, Kuta Utara, Selasa (15/9/2026).
Program latihan mencakup physical test untuk flexibility dan strength, ditambah sesi panjang di laut. "Ada physical test untuk persiapan flexibility sama strength. Dan banyak latihan di laut untuk surfing," tutur Kya.
Skuad Indonesia menurunkan Jasmine Studer, Kya Jo Heuer, I Made Pajar Ariana, dan Bronson Meydi. Target utama tim pelatih adalah satu medali emas.
"Di short board men, kami targetkan bisa mendapatkan emas. Sedangkan di putri, kalau bisa perak atau perunggu. Emas di Asian Games artinya bisa mengamankan satu tempat di Olimpiade 2028," kata Dylan.
Jalur ke Olimpiade lewat Asian Games membuat tekanan bertambah, terutama karena pesaing utama datang dari Asia Timur. Pajar menyebut atlet China dan Jepang sebagai lawan terberat.
"Kami sudah melakukan penyesuaian dengan karakter ombak di Jepang yang cenderung lebih kecil dan kurang bertenaga. Apa yang kami lakukan sekarang juga sebagai antisipasi menghadapi pesaing berat seperti atlet China dan Jepang," ujar Pajar.
Bagi Jasmine Studer, Asian Games 2026 menjadi debut. Persiapan intensif delapan bulan dijalaninya, termasuk sejumlah kejuaraan internasional di Prancis, Peru, dan Puerto Rico.
"Waktu persiapan sudah delapan bulan, sekarang Asian Games sudah di depan mata. Tidak terlalu nervous. Saya harus tetap percaya diri karena sebelum Asian Games sudah mengikuti berbagai kejuaraan internasional di Prancis, Peru, Puerto Rico juga," kata Jasmine.
Dengan keberangkatan 19 September, timnas surfing Indonesia punya waktu sekitar sepekan lebih untuk membaca karakter ombak Tahara sebelum pertandingan dimulai, sekaligus menyesuaikan diri dengan cuaca setempat yang berpotensi berubah cepat.