Hozon Diakuisisi Taiyi Shanglian Rp7,9 Triliun, Neta Lanjut Produksi SUV Listrik

Penulis: Sutomo  •  Jumat, 18 September 2026 | 16:20:02 WIB

GORONTALO — Hozon New Energy Automobile resmi masuk babak penyelamatan lewat akuisisi Zhejiang Taiyi Shanglian senilai 3 miliar yuan atau sekitar Rp7,9 triliun. Dana segar itu bakal dipakai melunasi utang lama sekaligus menyalakan lagi lini produksi Neta yang sempat mati. Fokus pabrik kini bergeser ke SUV, dengan Neta X jadi model pertama yang kembali dirakit.

Draf rencana reorganisasi Hozon dirilis usai rapat kreditur keempat yang digelar daring pada Jumat (11/9). Dokumen itu memuat komposisi investasi Taiyi Shanglian, perusahaan manajemen yang dibentuk Zhejiang Shanzi Holdings Company bersama Zhejiang Shanzi Yuxu Technology Company awal tahun ini. Laporan Just Auto, Rabu (16/9), mengutip media lokal sebagai sumber rincian skema penyelamatan tersebut.

Dari total 3 miliar yuan, sebanyak 1,17 miliar yuan (Rp3,1 triliun) dialokasikan untuk membereskan kewajiban lama. Pos itu mencakup pembayaran kreditur atas aset yang dipertahankan, biaya kepailitan, dan pengeluaran restrukturisasi lain. Sisa 1,83 miliar yuan (Rp4,8 triliun) masuk penuh ke kas Hozon sebagai modal kerja.

Fokus Bergeser ke SUV, Sedan Neta S dan GT Dilepas

Peralatan produksi Neta L dan Neta X ditetapkan sebagai aset inti yang tetap dipertahankan. Sebaliknya, lini perakitan sedan Neta S dan GT masuk kategori aset noninti yang bisa dijual terpisah. Keputusan ini menandakan Hozon memilih berkonsentrasi pada segmen SUV ketimbang mempertahankan seluruh jajaran modelnya.

Langkah tersebut dinilai masuk akal mengingat SUV masih jadi tulang punggung permintaan kendaraan listrik di banyak pasar. Dengan menyederhanakan lini produksi, perusahaan bisa menekan biaya operasional sekaligus mempercepat rantai pasok kembali normal.

Tiga Tahap Pemulihan, Target Awal 10 Ribu Unit

Rencana pemulihan Hozon dibagi dalam tiga fase. Tahap pertama menargetkan penjualan 10 ribu unit pada tahun pertama, dengan Neta X sebagai prioritas perakitan. Di fase ini, rantai pasok dibangun ulang dan jaringan purnajual diaktifkan kembali untuk melayani klaim garansi sekitar 400 ribu pemilik Neta.

Fase kedua menaikkan skala operasi ke 300 ribu unit per tahun. Hozon juga berencana mengembangkan model khusus untuk pasar berkembang di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lain. Tahap ketiga mencakup pengembangan mobil listrik pintar baru untuk pasar global, target nilai output tahunan 40 miliar yuan (Rp105,8 triliun), plus persiapan penawaran saham perdana atau IPO.

Nasib Neta di Indonesia Masih Menggantung

Di Tanah Air, Neta pernah memasarkan V, V-II, dan X. Neta X termasuk model yang produksinya dipertahankan, sementara keberlanjutan Neta V dan V-II tidak disebut dalam laporan tersebut.

Januari lalu, Neta Indonesia lewat akun Instagram resminya menyatakan Hozon diharapkan menuntaskan restrukturisasi pada pertengahan 2026. Unggahan yang sama menjelaskan layanan purnajual Neta di Indonesia dialihkan ke Otoklix dan Anma Mobil, seiring sejumlah dealer Neta yang ditutup.

Jongkie D Sugiarto, Komisaris Handal Indonesia Motor (HIM), menyebut perakitan Neta di fasilitas mereka sudah berhenti sejak sekitar enam bulan sebelumnya. Menurut Jongkie yang juga menjabat Ketua I Gaikindo, keputusan kelanjutan produksi sepenuhnya berada di tangan agen pemegang merek. Ia menambahkan Neta masih tercatat sebagai anggota Gaikindo.

Bagi pemilik Neta di Indonesia, kepastian soal suku cadang dan garansi bergantung pada hasil akhir restrukturisasi Hozon. Skema akuisisi Taiyi Shanglian memang menyuntikkan dana besar, tetapi realisasinya masih menunggu persetujuan kreditur dan proses hukum lebih lanjut.

Reporter: Sutomo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top