Pencarian

Aturan Impor EV Baru Malaysia 2026 Pukul Telak BYD, Zeekr, dan Chery, Produsen China Terdesak

Jumat, 03 Juli 2026 • 20:59:01 WIB
Aturan Impor EV Baru Malaysia 2026 Pukul Telak BYD, Zeekr, dan Chery, Produsen China Terdesak
Malaysia menetapkan syarat ketat impor EV CBU mulai 2026 untuk melindungi industri otomotif nasional.

GORONTALO — Malaysia tak main-main dalam melindungi industri otomotif nasionalnya. Lewat Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri, pemerintah negeri jiran itu menetapkan dua syarat utama bagi kendaraan listrik CBU yang masuk: nilai CIF (biaya, asuransi, dan ongkos angkut) minimal 200.000 ringgit atau setara Rp882,6 juta, serta daya motor tidak boleh kurang dari 180 kW (sekitar 241 hp).

Konsekuensinya langsung terasa. Dengan harga jual akhir yang pasti jauh di atas 200.000 ringgit setelah ditambah pajak dan margin, model-model andalan China seperti BYD Dolphin, Atto 3 varian dasar, Zeekr 7X, dan Chery Omoda E5 otomatis gagal lolos verifikasi. Bahkan seluruh jajaran produk BYD di Malaysia — tujuh model — saat ini dibanderol di bawah ambang batas tersebut.

Strategi Produksi Lokal Jadi Jurus Penyelamat

Alih-alih angkat kaki, sejumlah pabrikan China mulai merancang strategi baru. Ada dua jalur yang ditempuh: membangun pabrik sendiri atau memanfaatkan fasilitas yang sudah ada. Namun pemerintah Malaysia juga memasang jaring ketat untuk proyek manufaktur baru yang disetujui setelah 1 September 2025.

Aturannya cukup berat. Harga jual minimum kendaraan produksi lokal harus Rp441,3 juta, 80 persen dari total produksi wajib diekspor, dan penjualan domestik dibatasi maksimal 20 persen. Belum lagi kewajiban proses pengelasan, pengecatan, dan perakitan akhir dilakukan di Malaysia sebagai syarat lokalisasi bernilai tinggi.

Leapmotor dan Xpeng Pilih Jalur Kemitraan, Bebas Kewajiban Ekspor

Leapmotor dan Xpeng mengambil pendekatan berbeda. Keduanya memanfaatkan infrastruktur manufaktur yang sudah beroperasi, bukan membangun proyek baru. Leapmotor mulai merakit model C10 secara lokal di pabrik Kedah milik Stellantis pada Juni 2026. Sementara Xpeng mengumumkan produksi G6 versi setir kanan lewat kerja sama dengan produsen lokal EPMB.

Karena tidak mendirikan pabrik baru, kedua perusahaan ini bebas dari kewajiban mengekspor 80 persen produksi. Ini menjadi celah strategis yang mungkin akan diikuti pemain lain.

Malaysia Tiru Model Sukses Proton dan Perodua

Pemerintah Malaysia menyatakan kebijakan ini bukan sekadar proteksionisme. Tujuannya adalah mendorong investasi berkualitas tinggi, alih teknologi, dan pengembangan rantai pasok lokal yang kuat — persis seperti yang telah dibangun oleh produsen nasional Proton dan Perodua selama puluhan tahun.

Bagi produsen China, pilihan kini terbatas: patuh pada aturan baru, merakit di fasilitas lokal yang sudah ada, atau kehilangan akses ke pasar EV Malaysia yang tumbuh pesat. Data Departemen Transportasi Jalan Malaysia mencatat merek China, kecuali Proton yang dimiliki Geely, menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar kendaraan energi baru di Malaysia pada 2025. Angka sebesar itu tak akan rela dilepas begitu saja.

Bagikan
Sumber: antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks