GORONTALO — Asisten II Setda NTB, Lalu Moh. Faozal, mengungkapkan museum merupakan salah satu dari tiga fokus utama pemulihan kawasan Sade. Dua prioritas lainnya adalah penyusunan master plan utuh serta relokasi ratusan Kepala Keluarga (KK) yang menjadi korban kebakaran.
Pendanaan Keroyokan: dari Pocari Sweat hingga Blue Bird
Pembangunan ulang fasilitas Dusun Sade tidak hanya bertumpu pada APBN dan APBD. Sejumlah perusahaan swasta turut ambil bagian dalam skema pendanaan gotong royong.
Museum Sade didanai PT Amerta Indah Otsuka, produsen Pocari Sweat. Masjid Sade akan dibangun menggunakan dana dari MIM Foundation, sementara sekenem atau gazebo menjadi tanggung jawab Blue Bird. Toilet umum bakal dikerjakan Dharma Lautan Utama (DLU).
40 Rumah Siap Huni, Pemerintah Kejar Relokasi Warga
Faozal menyebut 40 unit rumah yang dibangun pada 2018 telah disiapkan untuk menampung warga terdampak. Pemerintah kini tengah melakukan pendekatan agar warga bersedia menempati rumah tersebut sebelum rekonstruksi kawasan adat dimulai.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menambahkan Kementerian Pariwisata telah membangun 40 rumah untuk warga Sade. Menyusul insiden kebakaran, pemerintah akan menambah 35 unit rumah baru bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Aktivitas Ekonomi Warga Jadi Prioritas
"Yang pasti dalam waktu dekat akan kita bangun museum, satu masjid Sade, kemudian sekenem atau gazebo agar aktivitas ekonomi segera dimulai, dan akan dibangun toilet," ujar Faozal.
Percepatan pembangunan fasilitas ekonomi ini dinilai krusial. Dusun Sade selama ini dikenal sebagai destinasi wisata budaya yang menjadi sumber penghidupan utama warga setempat.
Dengan tenggat yang mengerucut ke Oktober 2026, Pemprov NTB harus berkejaran dengan waktu. Perhelatan MotoGP Mandalika sendiri diproyeksikan menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara ke Lombok Tengah, termasuk ke kawasan Sade.