GORONTALO — Kinerja keuangan Telkom pada kuartal I 2026 memperlihatkan fenomena yang jarang terjadi: pendapatan bertambah, tetapi laba bersih justru tergerus. Sepanjang Januari–Maret 2026, pendapatan emiten telekomunikasi pelat merah itu mencapai Rp37,19 triliun, naik tipis dari Rp36,64 triliun pada kuartal I 2025.
Namun, laba bersih yang bisa dibawa ke kantong perusahaan hanya Rp4,34 triliun. Angka ini turun signifikan dari Rp5,55 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Manajemen menjelaskan, penyebab utama kontraksi ini adalah percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis yang masih berlangsung dalam fase transformasi perusahaan.
“Tekanan ini bersifat transisional dan non-cash. Secara fundamental, kinerja operasional tetap terjaga,” demikian pernyataan manajemen dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (31/5/2026).
Meski laba bersih tertekan, kondisi kas Telkom justru menunjukkan perbaikan. Arus kas operasional perusahaan tercatat tumbuh 3,1 persen secara tahunan menjadi Rp17,3 triliun. Manajemen menyebut pencapaian ini didorong oleh program efisiensi TOTEX (total expenditure) dan disiplin penagihan yang semakin baik.
Posisi kas dan setara kas pun ikut menguat. Hingga akhir Maret 2026, kas Telkom mencapai Rp37,55 triliun, naik dari Rp34,23 triliun pada akhir Desember 2025. Total aset perusahaan juga bertambah menjadi Rp289,96 triliun dari sebelumnya Rp287,76 triliun. Sementara itu, total liabilitas berhasil ditekan turun menjadi Rp134,15 triliun dari Rp137,22 triliun.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan bahwa tahun ini perusahaan akan semakin agresif dalam mengeksekusi strategi TLKM 30. “Kinerja kuartal I 2026 menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan secara bertahap,” ujar Dian.
Dari segi bisnis, segmen B2C yang mencakup mobile dan fixed broadband masih menjadi penopang utama. Telkomsel, anak usaha Telkom, membukukan pendapatan konsolidasian Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen secara tahunan. Pendapatan digital menjadi motor utama pertumbuhan ini.
Payload data juga meningkat 2,3 persen secara tahunan, seiring dengan investasi perusahaan dalam memperkuat kualitas dan ekspansi jaringan. Yang menarik, Average Revenue Per User (ARPU) naik 6,4 persen menjadi Rp45.100. Ini menandakan bahwa pelanggan tidak hanya bertambah, tetapi juga bersedia membayar lebih untuk layanan yang lebih baik.
Dian optimistis industri telekomunikasi masih prospektif. Menurutnya, konektivitas dan internet kini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. “Kami melihat kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan tren penurunan. Kami akan terus memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband dengan mengutamakan pengalaman pelanggan,” pungkasnya.