Pengumuman itu disampaikan Kedar Kondap, SVP Compute and Gaming Qualcomm, dalam wawancara eksklusif di ajang Computex 2026. Menurut Kondap, Snapdragon C bukan sekadar chip murah, melainkan jembatan untuk mendemokratisasi teknologi yang selama ini hanya dinikmati pengguna laptop premium.
"Kami ingin memastikan bahwa pengalaman yang kami tawarkan tersedia bagi semua konsumen di setiap rentang harga yang bisa kami jangkau," ujar Kondap. "Kami menghadirkan pilar performa yang sama, pilar daya tahan baterai yang sama, serta fungsionalitas AI untuk semua konsumen di titik harga yang belum pernah terdengar sebelumnya."
Snapdragon C akan menjadi basis dari lini prosesor terbaru Qualcomm yang melengkapi jajaran X Elite, X Plus, dan X2 yang sudah lebih dulu beredar di pasar laptop kelas atas dan menengah. Namun, yang membuat langkah ini menarik adalah timing-nya. Pasar laptop murah 2026 diprediksi akan sangat kompetitif, dengan Apple yang dikabarkan menyiapkan MacBook Neo dan Intel yang akan meluncurkan Wildcat Lake.
Qualcomm tidak ingin hanya bersaing dalam urusan harga dan spesifikasi mentah. Perusahaan asal San Diego ini melihat momentum besar pada transisi menuju agentic AI — sebuah paradigma di mana asisten AI tidak hanya menjawab perintah, tetapi bisa bertindak secara mandiri atas nama pengguna. "Setiap elemen — performa, daya, dan AI — memainkan peran yang sangat penting," tegas Kondap.
Saat ditanya soal kehadiran Nvidia yang baru saja mengumumkan akan memasuki pasar prosesor PC, Kondap bereaksi santai. "Selamat datang di keluarga," katanya sambil tertawa. Ia menilai langkah Nvidia justru menjadi angin segar bagi seluruh ekosistem non-x86 yang selama ini diperjuangkan Qualcomm.
"Kami berinvestasi sejak bertahun-tahun lalu — mulai dari mendorong ekosistem, memastikan printer berfungsi, aplikasi kompatibel, hingga lebih dari 2.500 game yang bisa berjalan di Snapdragon. Kami memimpin jalan," ujar Kondap. "Ini adalah angin positif bagi seluruh ekosistem."
Selain Snapdragon C, Qualcomm juga mengumumkan perluasan kemitraan di sektor industri. Bersama Advantech, Qualcomm merilis referensi desain robotika baru yang berfokus pada robot humanoid. Langkah ini menegaskan ambisi Qualcomm untuk tidak hanya menguasai kantong konsumen, tetapi juga pabrik dan lini produksi masa depan.
Bagi pengguna Indonesia, Snapdragon C bisa menjadi angin segar di tengah harga memori global yang melonjak. Jika realisasi produknya sesuai janji — performa setara laptop menengah dengan harga entry-level — maka laptop Windows murah yang bisa menjalankan AI generatif secara lokal bukan lagi sekadar mimpi. Qualcomm tampaknya serius menjadikan 2026 sebagai tahun di mana laptop murah tidak lagi harus malu-malu.