GORONTALO — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data terbaru per April 2026 yang menunjukkan peran dominan bank BUMN dalam mengerek pertumbuhan kredit nasional. Dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Mei 2026, Dian Ediana Rae mengungkapkan bahwa kredit yang disalurkan bank-bank milik negara melesat 14,35% secara tahunan. Angka ini memecah rata-rata industri yang hanya bertumbuh 9,98%.
Dari total kredit Rp 8.755 triliun yang disalurkan industri, sektor investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 19,48% secara tahunan. Sementara itu, kredit konsumsi naik 6,13% dan modal kerja bertambah 6,04%. Pola ini menunjukkan perbankan lebih agresif membiayai ekspansi bisnis ketimbang belanja rumah tangga.
Dana pihak ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan 11,4% secara tahunan, mencapai Rp 10.077 triliun. Namun secara bulanan, DPK terkontraksi 1,51%. Meski begitu, Dian menegaskan likuiditas perbankan tetap memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) berada di 111,13%, sementara rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 25,39%—keduanya masih di atas ambang minimum.
Rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,17%, dengan NPL net di level 0,84%. Meski ada sedikit kenaikan bulanan, angka ini masih tergolong sehat. “Kinerja intermediasi positif dengan profil risiko yang terjaga,” ujar Dian.
Satu catatan: rasio permodalan (CAR) per April turun ke 23,97%, lebih rendah dari 25,09% di Maret 2026 dan 25,41% di April 2025. Penurunan ini setelah memperhitungkan pembagian dividen. Dian menegaskan rasio tersebut masih sangat memadai untuk melindungi dana nasabah dan menahan kerugian finansial akibat risiko kredit hingga operasional.
Dengan pertumbuhan kredit bank BUMN yang hampir 1,5 kali lipat industri, peran mereka sebagai mesin pembiayaan ekonomi kian tak tergantikan. Apalagi di tengah sektor investasi yang terus menggeliat, perbankan pelat merah menjadi andalan utama.