GORONTALO — Empat penelitian yang lolos seleksi ketat itu mencakup manajemen risiko proyek, optimalisasi logistik, penguatan rantai pasok material, hingga pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) untuk menerapkan budaya kerja 5S. Semua riset diangkat dari persoalan nyata di lapangan, bukan sekadar teori.
Hasilnya, pendekatan Lean membuat perencanaan proyek jauh lebih matang. Hambatan seperti izin kawasan hutan lindung, kondisi tanah yang belum pasti, hingga ancaman cuaca ekstrem dipetakan sejak awal. Semua pihak yang terlibat juga sudah sepaham sebelum pekerjaan memasuki tahap kritis. “Dengan Lean Construction, risiko dikelola secara lebih proaktif dan kolaboratif,” tulis tim peneliti dalam makalahnya.
Hasilnya, waktu pencarian material jadi lebih singkat, jarak perpindahan material berkurang, dan kasus material salah tempat menurun drastis. Studi ini membuktikan bahwa BIM bukan cuma alat desain, tapi juga bahasa visual yang menjembatani rencana digital dengan kebiasaan kerja harian para pekerja.
Sementara itu, satu riset lagi mengevaluasi kinerja rantai pasok proyek infrastruktur menggunakan kerangka SCOR 14.0. Kajian ini memberikan gambaran bagaimana material bisa mengalir lebih lancar dari pemasok ke lokasi proyek, mengurangi kemacetan dan pemborosan.
Konferensi ISARC–IGLC 2026 mengusung tema “Constructing the Future: Sustainable, Smart and Lean.” Forum ini mempertemukan dua bidang besar: otomatisasi dan robotika konstruksi dari ISARC, serta Lean Construction dari IGLC. Bagi Hutama Karya, keikutsertaan ini bukan sekadar ajang pamer riset, melainkan bukti bahwa tantangan proyek di Indonesia bisa menjadi laboratorium inovasi yang diakui dunia.