GORONTALO — Kemarahan UEFA bukan tanpa alasan. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (7/7) pagi WIB, UEFA menuding FIFA telah membuat keputusan yang "belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan." Inti persoalannya adalah penangguhan hukuman kartu merah yang diterima Balogun saat AS menghadapi Belgia di babak 32 besar.
UEFA menegaskan bahwa sanksi skorsing otomatis minimal satu pertandingan setelah kartu merah bukanlah sesuatu yang bisa ditawar. "Ini adalah prinsip yang tertanam dalam peraturan, yang tidak dapat dikecualikan, apalagi di tengah turnamen di mana beberapa pemain lain telah berada dalam situasi yang sama dan secara rutin menjalani skorsing mereka," tulis UEFA dalam pernyataan yang dikutip dari Sky Sports.
Bagi UEFA, keputusan FIFA ini menciptakan preseden berbahaya. "Ketika kepastian aturan tidak lagi dijamin oleh para penegaknya, integritas permainan terancam dan kredibilitas sebuah kompetisi pun tergerus," tegas pernyataan tersebut. UEFA khawatir situasi serupa kini akan menuntut perlakuan setara, yang pada akhirnya merugikan turnamen secara keseluruhan.
Kontroversi ini semakin panas setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih ikut campur. Menurut jurnalis Ben Jacobs, lobi-lobi dilakukan sebelum pertandingan, setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio angkat suara. Tak lama setelah FIFA mengumumkan penangguhan sanksi, Presiden Donald Trump langsung bersorak di media sosial.
FIFA sendiri beralasan bahwa penangguhan itu diputuskan oleh panel independen berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA. Mereka membandingkannya dengan kasus Ronaldo yang mendapat perlakuan serupa di laga akhir kualifikasi, sehingga bisa tampil di laga pembuka Piala Dunia 2026. Namun, alasan ini justru dianggap makin memperlemah posisi FIFA.
Keputusan ini jelas menguntungkan AS selaku tuan rumah. Balogun adalah andalan utama skuad Mauricio Pochettino dengan torehan tiga gol sejauh ini. Tanpanya, AS bakal kehilangan senjata mematikan saat menghadapi Belgia. UEFA menilai keputusan semacam ini menimbulkan konsekuensi negatif bagi permainan secara global, terutama jika turnamen yang dimaksud adalah Piala Dunia.
"Sepak bola adalah olahraga yang paling dicintai di dunia karena dimainkan di mana-mana dengan aturan yang sama," tutup UEFA dalam pernyataannya. Kini, bola panas berada di tangan FIFA untuk menjelaskan konsistensi penerapan aturan mereka.