BOALEMO — Selama ini, hasil pertanian dari kawasan penyangga hutan di Kabupaten Boalemo kerap dianggap remeh. Stigma negatif bahwa masyarakat sekitar hutan adalah perusak lingkungan pun mulai terpatahkan.
"Kalau kita lihat hasil pertanian masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan, hasilnya bagus. Ini menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar kawasan hutan bukan perusak hutan, tetapi mampu mengelola lahan secara produktif," ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Boalemo, Nurdin, di Boalemo, Selasa.
Komoditas seperti pepaya, pisang, dan jambu disebut memiliki kualitas organik yang baik. Namun, persoalan pengemasan dan pemasaran masih menjadi ganjalan utama.
Nurdin menegaskan bahwa menjual produk dalam bentuk segar saja sudah tidak cukup. Nilai tambah akan melonjak signifikan jika buah-buahan tersebut diolah menjadi produk siap saji.
"Kalau hanya dijual dalam bentuk buah segar, nilai tambahnya masih terbatas. Tetapi kalau diolah dan dikemas menjadi produk siap saji, harganya bisa lebih tinggi dan lebih praktis bagi konsumen," katanya.
Salah satu contoh yang diangkat adalah jambu. Setelah melalui proses pengolahan, nilai jual buah ini bisa jauh lebih tinggi dibandingkan saat masih segar.
Pemerintah Kabupaten Boalemo telah menetapkan sektor pertanian sebagai program unggulan daerah dengan hilirisasi sebagai pintu masuk pengembangannya. Strategi ini tidak hanya menyasar peningkatan pendapatan, tetapi juga mengatasi masalah klasik petani: harga anjlok saat panen raya.
"Kami menggunakan pendekatan klaster. Ketika produksi melimpah, hasil panen bisa diolah sehingga memiliki masa simpan lebih panjang, nilai jual meningkat, dan petani tidak terlalu bergantung pada penjualan buah segar," jelas Nurdin.
Dengan diversifikasi produk, petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasar buah segar yang fluktuatif. Mereka bisa mengolah kelebihan produksi menjadi keripik, selai, atau produk olahan lain yang memiliki daya tahan lebih lama.
Nurdin optimistis bahwa pengembangan hilirisasi akan memperkuat daya saing sektor pertanian Boalemo sekaligus menciptakan petani yang lebih mandiri. Produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi menjadi kunci untuk mencapai target tersebut.
Ke depan, pemerintah daerah akan terus mendorong pelatihan pengolahan dan pengemasan bagi kelompok tani. Langkah ini diharapkan mampu mengubah wajah pertanian Boalemo dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah.