POHUWATO — Puluhan mahasiswa Program Studi S1 K3 Universitas Bina Mandiri Gorontalo turun langsung ke lapangan di kawasan operasional Pani Gold Mine, Kabupaten Pohuwato. Mereka tak sekadar menerima materi di kelas, tapi juga melihat langsung bagaimana sistem manajemen risiko dan budaya keselamatan diterapkan di tambang emas tersebut.
Kegiatan dimulai dengan safety induction sebelum masuk ke area tambang. Mahasiswa kemudian mendapat materi tentang Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan, identifikasi bahaya, penilaian risiko, hingga penerapan budaya keselamatan di lingkungan kerja.
Deputy General Manager Operasional Pani Gold Mine, Irwan Lupoyo, mengatakan kerja sama ini bukan sekadar kegiatan akademik. Menurutnya, ini bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mencetak tenaga kerja lokal yang siap pakai.
"Kami ingin terbangun link and match antara kebutuhan SDM di Pani Gold Mine dengan kompetensi lulusan Universitas Bina Mandiri, sehingga dunia industri dan perguruan tinggi dapat saling mendukung dalam menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai," ujar Irwan.
Praktik lapangan tersebut didampingi oleh Pengawas Ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja, ESDM, dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo, Mohamad Yodi Panto Biludi, yang juga dosen pengampu mata kuliah. Senior Manager OHS Pani Gold Mine, Oktovian Kelayan, dan Ketua Program Studi S1 K3 Universitas Bina Mandiri Gorontalo, Arpin, turut mendampingi mahasiswa selama observasi di lapangan.
Irwan menambahkan, sinergi antara perusahaan, perguruan tinggi, dan pemerintah menjadi kunci untuk menghasilkan lulusan yang memiliki pemahaman kuat soal keselamatan dan kesehatan kerja. Sektor pertambangan, kata dia, membutuhkan tenaga profesional yang benar-benar mengerti risiko dan cara pengendaliannya.
"Dengan kerja sama ini perusahaan memperoleh kesempatan untuk berkontribusi dalam menyiapkan calon tenaga kerja lokal yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan operasional pertambangan," kata Irwan.
Kolaborasi antara Pani Gold Mine, Universitas Bina Mandiri Gorontalo, dan Dinas Tenaga Kerja, ESDM, dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo diharapkan menjadi fondasi kemitraan berkelanjutan. Ke depan, model ini bisa diperluas untuk mencetak tenaga profesional K3 yang kompeten, sekaligus memperkuat kesiapan SDM Gorontalo menghadapi berkembangnya industri pertambangan di daerah.