TEHERAN — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas menjelang putaran negosiasi berikutnya. Ahmad Bakhshayesh Ardestani, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, menyebut serangan terbaru AS bertujuan menggerus posisi tawar Iran, khususnya terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Dalam wawancara dengan RIA Novosti yang dipublikasikan Jumat lalu, Ardestani mengungkapkan bahwa Pakistan, Qatar, dan Turki masih aktif menjadi mediator untuk meredakan ketegangan. "Pakistan, Qatar dan bahkan Turki masih melakukan upaya mediasi. Namun, Amerika masih meyakini bahwa mereka akan mampu melemahkan Iran sampai batas tertentu sebelum perundingan berikutnya," ujarnya.
Menurut Ardestani, serangan AS dipicu oleh nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani kedua negara. Dokumen tersebut dinilai belum komprehensif dan memuat sejumlah ketentuan ambigu yang dapat ditafsirkan berbeda oleh masing-masing pihak. Salah satu contohnya adalah butir kelima yang mengatur pengelolaan Selat Hormuz berdasarkan mekanisme Iran dengan kerja sama Oman.
"Namun, karena Oman adalah negara Arab, negara itu lebih rentan terhadap pengaruh negara-negara Teluk Arab dan juga berada di bawah tekanan Amerika Serikat," jelas Ardestani. Ia menambahkan bahwa Washington berupaya memanfaatkan koridor Oman untuk pelayaran kapal melalui Selat Hormuz. Langkah ini dinilai sebagai strategi mengurangi peran Iran dalam mekanisme pengelolaan selat tersebut pada pembahasan lanjutan mengenai isu nuklir maupun status selat.
Pada malam menuju 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman secara tidak langsung yang mengatur penghentian konflik militer. Namun, sejak 8 Juli, militer AS kembali melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan itu merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Ardestani menilai kondisi ini menjadi salah satu alasan kembali berlanjutnya perang yang saling melemahkan antara kedua pihak. Ia menekankan bahwa tujuan utama Washington adalah melemahkan posisi Iran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi global.