GORONTALO — Percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis air menjadi prioritas utama PLN. Dari 11,7 GW yang ditargetkan, sebanyak 6,8 GW proyek saat ini berada di tahap pengadaan, 1,4 GW dalam konstruksi, 410 MW dalam kajian kelayakan, dan 570 MW telah beroperasi. Seluruh proyek ini akan dikerjakan bersama swasta atau Independent Power Producer (IPP) melalui 315 proyek.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar, menegaskan bahwa pengembangan hydropower tidak bisa berjalan sendiri. Pihaknya menggandeng pemerintah, IPP, hingga asosiasi industri seperti Masyarakat Energi Baru Terbarukan (METI) untuk memastikan proyek selesai tepat waktu.
"PLN tidak sendirian dalam menjalankan amanah ini. Kolaborasi adalah kunci untuk bisa menyukseskan program ini. Pemerintah, PLN, IPP, dan termasuk lembaga lain, termasuk METI, kita memerlukan sinergi yang kuat, komitmen yang kuat, dan kontribusi yang aktif dari seluruh pemangku kepentingan," ujar Suroso dalam agenda Indonesia Hydropower Summit 2026 di Jakarta, Rabu (5/8).
PLN tidak hanya fokus pada PLTA konvensional. Perusahaan juga menggarap teknologi pumped storage, yang berfungsi seperti baterai raksasa. Teknologi ini menyimpan energi saat pasokan listrik melimpah dan melepaskannya kembali saat dibutuhkan, sehingga menjaga kestabilan sistem kelistrikan yang semakin banyak menggunakan energi terbarukan.
Beberapa proyek pumped storage yang tengah disiapkan antara lain Upper Cisokan (1.040 MW) di Jawa Barat, Matenggeng (943 MW), Grindulu (1.000 MW), Jatiluhur (760 MW), dan Sumatera Utara (500 MW). Total kapasitas pumped storage dalam RUPTL mencapai 4,3 GW.
Komisaris Independen PLN, Ali Masykur Musa, menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi mencari potensi air, melainkan mengubahnya menjadi proyek yang siap dieksekusi. Menurutnya, percepatan harus dilakukan dari hulu ke hilir.
"Proyek hydropower memang memiliki masa pengembangan dan konstruksi yang panjang, tapi nilainya sangat luar biasa untuk berkembang. Karena itu percepatan hydropower tidak dapat dilakukan secara parsial, percepatan harus dilaksanakan secara end-to-end dan tahap perencanaan hingga operasi harus terukur," katanya.
Pengembangan hydropower dinilai krusial untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data, kendaraan listrik, dan hilirisasi mineral. Pelaksana Tugas Ketua Umum METI, Norman Ginting, mendorong agar proyek-proyek ini tidak berhenti di atas kertas, melainkan masuk pipeline yang siap didanai dan dibangun.
"Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat pertumbuhan pusat data, kendaraan listrik, hilirisasi mineral, dan industri hijau, hydropower menjadi fondasi penting untuk menghadirkan sistem kelistrikan yang andal sekaligus rendah emisi. METI mendorong agar kolaborasi lintas pemangku kepentingan tidak berhenti pada forum diskusi, melainkan menghasilkan pipeline proyek yang siap didanai, dibangun, dan beroperasi secara komersial," tutup Norman.
Dengan total target 16 GW dari gabungan PLTA, PLTM, dan pumped storage, PLN optimistis bauran energi terbarukan nasional akan meningkat signifikan dalam dekade ini. Keberhasilan eksekusi proyek-proyek ini akan menentukan keandalan pasokan listrik bagi industri dan masyarakat di tengah tren elektrifikasi yang terus naik.