GORONTALO — Di lapangan terbuka Marapokot dan Mbay, warga terlihat bergantian memanfaatkan fasilitas seadanya. Sebagian mencuci peralatan masak di samping tenda, sementara yang lain mengantre mengisi ember dengan air bersih. Seorang bayi berusia satu bulan terpaksa beristirahat di dalam tenda dengan ventilasi terbatas di tengah terik matahari.
Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026. Namun, dari pantauan di lapangan, distribusi logistik belum menjangkau seluruh titik pengungsian secara merata.
Warga mengaku belum menerima bantuan dalam jumlah yang memadai. Aktivitas memasak dilakukan dengan peralatan yang dibawa sendiri dari rumah, sementara pasokan air bersih bergantung pada tangki air yang datang secara berkala.
Berdasarkan kondisi di lokasi pengungsian, setidaknya ada tiga kebutuhan yang urgensinya paling tinggi. Pertama, air bersih untuk konsumsi dan kebersihan. Kedua, makanan siap saji yang tidak memerlukan proses memasak rumit. Ketiga, tenda keluarga yang lebih layak untuk ibu hamil, lansia, dan bayi.
Bayi berusia satu bulan yang berada di pengungsian menjadi salah satu kelompok paling rentan. Kondisi tenda yang panas dan kurang ventilasi meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi balita dan ibu menyusui.
Kebutuhan dasar warga terdampak gempa di Nagekeo masih bergantung pada bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi, serta relawan yang datang dari berbagai organisasi kemanusiaan. Proses pendataan jumlah pengungsi dan kerusakan rumah terus dilakukan untuk menentukan skala bantuan berikutnya.
Masa tanggap darurat yang berlangsung hingga 28 Agustus 2026 menjadi acuan bagi pemerintah untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan penanganan. Setelah masa itu berakhir, tahap rehabilitasi dan rekonstruksi diharapkan segera berjalan.