JAKARTA — Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Gorontalo mencatatkan hasil positif di ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Sepanjang empat hari pelaksanaan, transaksi yang dibukukan mencapai Rp298,3 juta, meningkat signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Kenaikan ini menjadi indikator bahwa produk unggulan dari daerah paling timur Sulawesi itu mulai mendapatkan tempat di pasar nasional. Peluang ekspansi ke pasar internasional pun terbuka, salah satunya lewat komitmen investasi atau Letter of Intent (LoI) antara Dellacious Coffee dengan mitra bisnis dari Jepang.
Angka Rp298,3 juta yang diraih UMKM binaan KPwBI Gorontalo tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 186,8 persen dari perolehan di KKI 2025.
Adapun LoI yang ditandatangani Dellacious Coffee menjadi langkah awal penjajakan pengembangan pasar kopi asal Gorontalo di Jepang. Kerja sama ini dinilai sebagai peluang besar bagi produk lokal untuk bersaing di tingkat global.
Secara nasional, KKI 2026 mencatat penjualan sementara Rp144,2 miliar hingga 22 Agustus 2026. Angka itu meningkat 46 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Kegiatan ini pun melibatkan lebih dari 1.860 UMKM dari seluruh Indonesia, dengan hampir 560 di antaranya mengikuti pameran secara luring.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menegaskan bahwa KKI bukan sekadar ajang promosi dan transaksi. "Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami adakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing," kata Aida dalam seremoni penutupan KKI 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (23/8/2026).
Selain transaksi langsung, KKI 2026 juga mencatatkan business matching (BM) ekspor senilai Rp169,9 miliar. Angka tersebut melibatkan 192 UMKM dan pembeli dari 16 negara. Sementara itu, BM pembiayaan mencapai Rp285 miliar, atau meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.
Pengembangan akses pasar UMKM ini didukung oleh jaringan 46 Kantor Perwakilan Dalam Negeri dan lima Kantor Perwakilan Luar Negeri Bank Indonesia. Aida menambahkan, penguatan UMKM tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri dan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.
"Cintai, bangga, dan pakai produk UMKM Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi UMKM Indonesia menjadi tuan rumah produk Indonesia dan bisa tumbuh, tangguh, dan berdaya saing," ujarnya.
Bagi Gorontalo, capaian ini menegaskan bahwa peluang pasar yang lebih luas mulai terbuka. Tantangan ke depan bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga memastikan kualitas, kapasitas produksi, kesinambungan pasokan, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar internasional.
KKI 2026 sendiri mengusung semangat Beudaya MeusareSare, yang berarti berdaya bersama-sama. Semangat tersebut diarahkan untuk membawa produk UMKM dari berbagai daerah agar tidak hanya dikenal di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar global.