BOALEMO — Pembinaan Duta Anti Perkawinan Anak yang digelar Kantor Urusan Agama Kecamatan Tilamuta menyoroti peran keluarga sebagai garda terdepan perlindungan anak. Lahmuddin menilai keberadaan para duta bisa menjadi bagian dari upaya edukasi di lingkungan masing-masing.
Para duta didorong mengajak teman sebaya memahami pentingnya menjaga diri, menghindari perilaku berisiko, serta tidak melakukan perkawinan pada usia anak. Peran itu dinilai penting karena kasus kekerasan seksual dan perkawinan anak kerap luput dari pengawasan orang terdekat.
Menurut Lahmuddin, pembentukan karakter anak perlu diperkuat melalui pendidikan agama dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan positif. Pendidikan tersebut harus berjalan bersama perhatian dan pendampingan dari keluarga.
"Sebagai orang tua, kita harus hadir dalam kehidupan anak-anak kita. Berikan perhatian, bimbingan, dan ruang bagi mereka untuk bercerita. Jangan sampai anak-anak merasa sendiri ketika menghadapi persoalan," ujar Lahmuddin.
Lahmuddin menegaskan perlindungan anak tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah perlu berperan bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Melalui pembinaan tersebut, para Duta Anti Perkawinan Anak diharapkan mampu memperluas edukasi kepada masyarakat. Kesadaran mengenai pentingnya mencegah perkawinan anak dan kekerasan seksual juga diharapkan meningkat.
Lahmuddin berharap dukungan orang tua dan peran aktif para duta dapat membantu anak-anak di Kabupaten Boalemo tumbuh di lingkungan yang aman. Anak-anak juga diharapkan dapat mengembangkan potensi serta mempersiapkan masa depan sesuai dengan cita-cita mereka.