GORONTALO — Sebanyak 14 mahasiswa dari Program Studi Administrasi Rumah Sakit (ARS), Manajemen, dan Administrasi Bisnis mempresentasikan proposal penelitian mereka di Ruang Ujian 1A dan 1B Kampus UBMG. Ujian proposal merupakan tahapan krusial sebelum memasuki penelitian skripsi secara penuh, menandai transisi dari pembelajaran teori ke praktik akademik.
Dalam proses ujian, mahasiswa memaparkan latar belakang penelitian, rumusan masalah, kajian teori, tujuan penelitian hingga metode yang akan diterapkan di lapangan. Tim dosen penguji kemudian memberikan evaluasi, masukan, dan penguatan substansi agar proposal yang dihasilkan memiliki kualitas akademik relevan dan aplikatif. Kehadiran pimpinan universitas — Plt. Wakil Rektor I Rizal, M.Si, Dekan Fakultas Adnan Malaha dan Dr. Darman, serta Kepala BPMA Dr. Ikram Muhammad — menunjukkan komitmen institusi terhadap standar akademik.
Lebih dari Formalitas Administratif
Plt. Wakil Rektor I UBMG, Rizal, M.Si, menegaskan bahwa ujian proposal bukan sekadar gerbang menuju skripsi. "Ujian proposal merupakan bagian penting dalam membangun tradisi akademik berbasis riset di lingkungan kampus," ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa dituntut menghasilkan penelitian yang tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Khususnya di bidang kesehatan, manajemen, administrasi bisnis, dan pelayanan publik. "Mahasiswa harus mampu menghadirkan penelitian yang solutif, relevan, dan memiliki nilai kebermanfaatan," tambahnya.
Kesiapan Metodologi dan Presentasi Akademik
Rizal menekankan pentingnya persiapan matang mahasiswa sebelum ujian. Penguasaan materi, kemampuan presentasi akademik, dan kedalaman metodologi penelitian menjadi aspek yang diperhatikan tim penguji. Hal ini memastikan mahasiswa tidak hanya hafal teori, tetapi mampu menerapkannya secara kritis dan adaptif.
Dekan FEB UBMG, Dr. Darman, M.Si, melihat ujian proposal perdana tahun 2026 sebagai momentum penguatan atmosfer akademik produktif dan inovatif. "Kami berharap mahasiswa mampu menunjukkan kualitas akademik melalui proposal penelitian yang terukur, relevan, dan memiliki kontribusi terhadap pengembangan ilmu manajemen serta administrasi bisnis," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa forum ujian proposal menjadi ruang penting bagi mahasiswa memperoleh penguatan substansi dari dosen penguji. "Mahasiswa harus terbuka terhadap kritik, masukan, dan penyempurnaan proposal agar penelitian yang dilakukan memiliki kualitas ilmiah yang kuat," jelas Dr. Darman.
Kualitas Riset sebagai Indikator Mutu Kampus
Kepala BPMA UBMG, Dr. Ikram Muhammad, M.Si, menegaskan bahwa kualitas penelitian mahasiswa merupakan indikator penting dalam peningkatan mutu perguruan tinggi. Mahasiswa telah dibekali teori dan metodologi penelitian selama perkuliahan — semua bekal itu harus diterapkan dalam penelitian ilmiah yang kritis, analitis, dan adaptif.
Skripsi baginya adalah implementasi konkret kemampuan akademik mahasiswa mengintegrasikan teori dengan kondisi realitas masyarakat. "Penelitian mahasiswa harus memiliki nilai kebermanfaatan dan mampu memberikan rekomendasi ilmiah yang relevan bagi masyarakat maupun pengembangan institusi," tambahnya.
Melalui pelaksanaan ujian proposal ini, UBMG menunjukkan komitmen membangun ekosistem pendidikan tinggi yang unggul, berkarakter, dan berorientasi global. Penguatan budaya riset, pendampingan akademik, dan pengembangan metodologi penelitian terus didorong sebagai bagian mencetak lulusan kompeten, inovatif, profesional, dan memiliki daya saing global.