GORONTALO — Harga mobil listrik masih tinggi. Komponen baterai mencapai 40-50 persen dari total biaya kendaraan. Ini menjadi hambatan utama adopsi EV di Indonesia.
Skema sewa baterai atau battery subscription muncul sebagai alternatif untuk memotong ongkos awal pembelian secara drastis. Konsumen hanya membeli unit mobil tanpa baterai. Baterai disewa melalui biaya bulanan yang sudah ditentukan.
Harga Bisa Terpangkas Hingga Rp80 Jutaan
Ilustrasinya begini: jika sebuah mobil listrik dijual Rp190 juta dan nilai baterainya mencapai 45 persen, maka harga mobil tanpa baterai bisa turun hingga sekitar Rp100 jutaan. Angka ini bersaing langsung dengan mobil LCGC yang saat ini sudah berada di kisaran Rp170 juta hingga Rp200 jutaan.
Selisih harga antara mobil listrik dan LCGC bisa menjadi sangat tipis, bahkan lebih murah. Peluang ini membuka akses bagi konsumen yang selama ini hanya mampu membeli LCGC untuk beralih ke kendaraan listrik.
Sudah Diterapkan VinFast dan NIO
Beberapa produsen global sudah menjalankan model bisnis ini. VinFast asal Vietnam menawarkan harga kendaraan tanpa baterai yang lebih rendah puluhan juta rupiah dibandingkan versi lengkap. Konsumen kemudian membayar biaya langganan bulanan yang disesuaikan dengan jenis dan penggunaan kendaraan.
Di Tiongkok, NIO melalui program Battery as a Service (BaaS) menerapkan sistem serupa. Program ini memungkinkan konsumen menekan biaya pembelian awal sekaligus mendapatkan fleksibilitas dalam penggunaan baterai.
Keuntungan: Bebas Khawatir Degradasi Baterai
Bagi pengguna harian, skema ini menawarkan keuntungan jangka panjang. Selain harga beli yang lebih murah, konsumen tidak perlu pusing memikirkan biaya penggantian baterai yang mahal. Ketika performa baterai menurun hingga batas tertentu, penyedia layanan biasanya akan menggantinya dengan unit yang lebih baik.
Nilai jual kembali kendaraan juga berpotensi lebih stabil. Calon pembeli bekas tidak perlu khawatir dengan kondisi State of Health (SOH) baterai yang sudah menurun. Urusan baterai sepenuhnya dikelola oleh penyedia layanan.
Rugi: Biaya Bulanan Tetap Jalan Meski Mobil Parkir
Namun skema ini memiliki kelemahan mendasar. Konsumen wajib membayar biaya langganan setiap bulan, baik kendaraan digunakan maupun tidak. Selama kontrak berlangsung, biaya sewa tetap berjalan.
Menurut sejumlah pengamat, sistem ini lebih cocok bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang menggunakan kendaraan hampir setiap hari. Bagi pemilik yang jarang memakai mobil, biaya bulanan justru bisa menjadi beban tambahan yang tidak efisien.
Skema serupa sudah lebih dahulu diterapkan pada beberapa motor listrik di Indonesia. Konsumen dapat membeli unit dengan harga lebih rendah, lalu membayar biaya sewa baterai bulanan. Penerapan pada mobil listrik dinilai tinggal menunggu kesiapan regulasi dan minat ATPM di Tanah Air.