GORONTALO — Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Toyota sejak 2022, sekaligus memutus dominasi Ferrari yang memenangi tiga edisi terakhir. Namun, perjalanan Toyota menuju podium tertinggi tidaklah mulus. Mobil pabrikan Jepang itu harus memulai balapan dari posisi ke-14 dan menghadapi serangkaian masalah sejak lap awal.
Sensor Bermasalah, Kecepatan Anjlok 8 Km/jam
Direktur teknis Toyota, David Floury, mengungkapkan kepada Motorsport.com bahwa mobil #7 mengalami gangguan sensor driveshaft yang membuatnya terus-menerus masuk ke mode aman selama balapan. Akibatnya, kecepatan mobil turun hingga 8 km/jam dibandingkan mobil saudaranya, nomor #8.
“Sensornya tidak benar-benar mati, tapi drifting dan berisik. Itu mengacaukan semua pengukuran FIA, jadi kami harus masuk ke mode default,” jelas Floury. “Bahkan saat sensor kembali normal, kami tetap memicu masalah, sehingga tenaga harus dikurangi.”
Ban Bocor hingga Safety Car yang Menghantam Mental
Kobayashi mengakui bahwa timnya mengalami pekan yang sangat berat. Selain sensor, mobil mereka juga menderita ban pecah dan timing safety car yang kurang menguntungkan. Sementara itu, Cadillac dan BMW justru menunjukkan performa impresif sepanjang balapan.
“Kami mengalami tusukan ban, masalah sensor, dan kehilangan tenaga. Sangat berat, tapi kami berhasil melewatinya,” ujar Kobayashi. Ia juga bercanda tentang rekan setimnya: “Robin membuat semuanya tegang. Saya rasa Nyck menutup mata di kamarnya selama satu jam terakhir, bersembunyi dari semua orang.”
De Vries Lega, Kobayashi Rasakan ‘Le Mans Memilih Pemenang’
Bagi Nyck de Vries, kemenangan ini sangat emosional. Ia menjadi pembalap Belanda ketiga yang menjuarai kategori utama Le Mans. “Saya mondar-mandir di ruang pembalap, ke kamar kecil 15 kali dalam 30 menit terakhir! Tapi kami berhasil,” katanya.
Kobayashi menambahkan, “Balapan ini tanpa ampun. Ada banyak momen di mana saya pikir kami sudah tidak mungkin menang. Tapi mereka bilang Le Mans memilihmu untuk menang—saya rasa itulah yang terjadi hari ini.”
Ferrari dan Cadillac Gigit Jari
Di pihak lawan, Ferrari mengeluhkan performa yang tidak seimbang. Kepala desainer Ferrari, Mauro Barbieri, menyebut sejak hari tes sudah terlihat timnya tidak masuk dalam jajaran terdepan. Meski tidak menyebut secara eksplisit soal Balance of Performance (BoP), pernyataan itu menjadi indikasi kuat adanya ketimpangan regulasi teknis.
Sementara itu, Cadillac nomor #12 yang sempat menunjukkan kecepatan menjanjikan harus puas finis di luar podium setelah terkena full-course yellow yang tidak tepat waktu. Pembalap Norman Nato mengaku kehilangan sekitar 40 detik akibat pit stop darurat yang dipicu oleh situasi tersebut.
Kemenangan ini membuktikan bahwa Le Mans bukan sekadar balapan 24 jam, melainkan pertarungan yang bisa berlangsung bertahun-tahun. Toyota menunjukkan kegigihan dengan terus mengembangkan mobil dan tim, meskipun sempat gagal di edisi sebelumnya. “Kalau semuanya mudah, semua orang pasti jadi juara Le Mans,” kata Kobayashi menutup pernyataannya.