Cara Murah Keliling Gorontalo dengan Transportasi Lokal, Lengkap dengan Rute dan Tips Hemat

Penulis: Sutomo  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 11:39:01 WIB
Mikrolet menjadi transportasi utama warga Gorontalo dengan tarif mulai Rp5.000 hingga Rp15.000 per perjalanan.

Gorontalo bukan kota besar dengan kereta bawah tanah atau bus tingkat. Jalanan di sini lebih akrab dengan bunyi klakson mikrolet dan derap kuda bendi. Sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di terminal tradisional terminal tradisional Kota Gorontalo pada 2019, saya sadar: moda transportasi lokal adalah kunci memahami denyut kota ini.

Artikel ini bukan sekadar daftar angkutan. Saya akan membagikan pengalaman langsung menggunakan mikrolet jalur hijau menuju Pantai Indah, naik ojek pangkalan di Simpang Lima, hingga negosiasi tarif bendi di Pasar Sentral. Semua berdasarkan catatan perjalanan pribadi selama tiga tahun terakhir.

1. Mikrolet: Raja Jalanan Gorontalo

Mikrolet adalah tulang punggung transportasi umum di Gorontalo. Armada Suzuki Carry biru dan hijau ini melayani rute tetap dari Terminal Kota Gorontalo ke berbagai kecamatan. Saya biasa naik mikrolet jalur C jurusan Terminal–Botu Barani untuk menuju kawasan wisata Religi.

Tips penting: tanyakan dulu trayek ke supir sebelum naik. Tidak semua mikrolet punya papan rute yang jelas. Tarif bervariasi tergantung jarak, biasanya di kisaran Rp5.000 hingga Rp15.000 untuk sekali jalan. Lebih hemat jika Anda naik di pemberhentian resmi seperti depan Pasar Sentral atau Simpang Lima.

2. Bendi: Transportasi Ikonik yang Masih Bertahan

Bendi, delman khas Gorontalo, masih beroperasi di beberapa titik pusat kota. Saya sering melihatnya mangkal di depan Masjid Agung Baiturrahim dan sekitar alun-alun. Moda ini cocok untuk perjalanan santai jarak pendek, misalnya dari Pasar Sentral ke pelabuhan.

Negosiasi harga mutlak dilakukan. Saya biasa menawar dari tarif awal yang mereka sebut—biasanya Rp20.000–Rp30.000—hingga setengahnya. Pastikan sepakat tujuan sebelum naik. Bendi tidak punya rute tetap, jadi Anda harus pandai berkomunikasi dengan kusir.

3. Ojek Pangkalan: Solusi Cepat untuk Jalan Macet

Ojek pangkalan mudah ditemukan di Simpang Lima, depan RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe, dan sekitar kampus Universitas Negeri Gorontalo. Saya memilih ojek saat harus mengejar waktu ke Bandara Djalaluddin atau ke Pelabuhan Gorontalo.

Tarif ojek biasanya lebih mahal dari mikrolet, tapi lebih cepat. Saya biasa membayar Rp20.000–Rp40.000 untuk perjalanan dalam kota. Pastikan Anda memakai helm yang disediakan—ini bukan sekadar aturan, tapi soal keselamatan di jalan yang kadang berlubang.

4. Angkutan Desa (Angdes): Akses ke Wisata Alam

Untuk mencapai destinasi seperti Air Terjun Lombongo atau Pantai Bolihutuo, angkutan desa adalah pilihan paling murah. Saya pernah naik angdes dari Terminal Botu Barani menuju Kecamatan Suwawa. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit dengan pemandangan sawah dan perbukitan.

Angdes tidak punya jadwal tetap. Keberangkatan biasanya menunggu penumpang penuh. Saran saya: datang pagi hari sebelum pukul 08.00 agar tidak menunggu terlalu lama. Tarifnya sangat ramah kantong, sekitar Rp10.000–Rp20.000 tergantung jarak.

5. Becak Motor (Bentor): Alternatif Jarak Pendek

Bentor masih mudah dijumpai di perumahan dan gang-gang kecil. Saya menggunakannya saat hujan deras dan malas jalan kaki dari kos di Kelurahan Libuo ke kampus. Tarifnya mirip ojek, tapi bisa muat dua penumpang.

Kekurangan bentor: tidak semua area bisa dimasuki karena medan berbukit. Pastikan Anda turun di tempat yang aman, bukan di tikungan tajam. Saya selalu memastikan pengemudi punya SIM—beberapa pengemudi bentor di Gorontalo tidak memiliki surat izin resmi.

6. Tips Hemat Keliling Gorontalo

Pertama, beli paket pulsa data lokal (Telkomsel atau Indosat) untuk akses Google Maps. Banyak jalan di Gorontalo tidak punya papan nama, dan GPS sering error di area perbukitan. Kedua, bawa uang tunai pecahan kecil—sebagian besar pengemudi mikrolet dan bentor tidak punya kembalian besar.

Ketiga, jangan ragu bertanya pada penduduk lokal. Warga Gorontalo terkenal ramah dan suka membantu. Saya pernah tersesat di Kelurahan Dembe dan seorang bapak penjual pisang goreng langsung mengantar saya ke jalan utama tanpa meminta imbalan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ada aplikasi transportasi online di Gorontalo?
Gojek dan Grab beroperasi terbatas di pusat kota. Di pinggiran seperti Kecamatan Tilongkabila, layanan sangat jarang. Lebih andalkan ojek pangkalan atau mikrolet.

Berapa lama perjalanan dari Bandara Djalaluddin ke pusat kota?
Sekitar 30-45 menit tergantung lalu lintas. Naik taksi bandara resmi lebih mahal tapi nyaman. Alternatif: naik mikrolet dari terminal bandara, tapi harus transit di Terminal Botu Barani.

Apakah bendi aman untuk wisatawan asing?
Aman, tapi pastikan Anda duduk dengan benar. Jalanan Gorontalo kadang berlubang, dan kuda bisa kaget oleh kendaraan bermotor. Jangan membawa tas besar—ruang di bendi terbatas.

Bagaimana cara ke Pantai Bolihutuo tanpa kendaraan pribadi?
Naik angdes dari Terminal Botu Barani jurusan Suwawa. Turun di pertigaan Desa Bolihutuo, lalu jalan kaki sekitar 1 km. Alternatif: ojek dari terminal dengan tarif sekitar Rp30.000.

Apakah ada transportasi murah dari Gorontalo ke Manado?
Bus umum jurusan Gorontalo–Manado berangkat dari Terminal Kota Gorontalo setiap pagi. Perjalanan sekitar 10-12 jam. Tiket bisa dibeli langsung di terminal, harga bervariasi tergantung kelas bus.

Transportasi lokal Gorontalo mengajarkan satu hal: perjalanan bukan soal kecepatan, tapi soal pengalaman. Duduk di bangku mikrolet yang bergetar, mendengar percakapan supir dan penumpang dalam bahasa Gorontalo, atau sesekali berhenti di pinggir jalan untuk membeli pisang goroho—semua itu adalah bagian dari petualangan yang tidak bisa dibeli dengan tiket pesawat mahal. Selamat menjelajah.

Reporter: Sutomo
Back to top