GORONTALO — Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo merampungkan rangkaian safari program HIV dan IMS di enam kabupaten/kota. Agenda yang berlangsung sejak Mei hingga awal September 2026 ini mempertemukan pengelola program HIV, petugas kesehatan ibu dan anak (KIA), bidan koordinator, hingga tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Erni Nuraini Mansur, menyebut materi dalam safari tidak seragam. Setiap daerah mendapat pembahasan yang berbeda sesuai kondisi dan tantangan di lapangan.
Rangkaian safari dibuka di Kabupaten Gorontalo Utara pada Mei 2026 dengan 45 peserta. Salah satu agenda utama di daerah ini adalah pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA).
Pada bulan yang sama, kegiatan berlanjut di Kabupaten Gorontalo yang dihadiri 50 peserta. Pembahasan di wilayah ini diarahkan pada pemanfaatan pre-exposure prophylaxis (PrEP) sebagai metode pencegahan HIV.
Kota Gorontalo menjadi lokasi ketiga melalui dukungan Global Fund komponen AIDS. Agenda di sini menyasar proses re-input pasien dengan hasil tes HIV negatif ke dalam layanan PrEP, melibatkan seluruh pengelola program HIV se-kota.
Di Kabupaten Pohuwato, 16 pengelola program HIV membahas pemanfaatan menu Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Dana ini diarahkan untuk mendukung deteksi dini dan tata laksana orang dengan HIV (ODHIV).
Sementara di Kabupaten Bone Bolango, peserta terdiri dari pengelola program HIV dan bidan koordinator. Keterlibatan bidan menjadi penting karena pembahasan mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu dan anak, terutama di tengah meningkatnya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di wilayah tersebut.
Rangkaian safari ditutup di Kabupaten Boalemo dengan melibatkan pengelola program HIV dari puskesmas dan rumah sakit. Agenda terakhir membahas inisiasi perluasan layanan satelit PrEP untuk memperluas akses pencegahan HIV.
Erni mengapresiasi komitmen pemerintah kabupaten/kota dan tenaga kesehatan yang terlibat. Ia menegaskan setiap wilayah memiliki tantangan berbeda sehingga pembahasan perlu disesuaikan agar hasil pertemuan dapat ditindaklanjuti di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kami mengapresiasi antusiasme dan komitmen seluruh kabupaten/kota. Setiap wilayah memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pembahasan kami sesuaikan dengan kebutuhan daerah agar hasil pertemuan dapat ditindaklanjuti di fasilitas pelayanan kesehatan,” katanya.
Pengelola Layanan Kesehatan sekaligus Pengelola Program HIV dan IMS Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Mohamad Ramdhan Ismail, menambahkan safari menjadi kesempatan melihat langsung kondisi pelaksanaan program di masing-masing daerah. Ia menegaskan ruang konsultasi, fasilitasi, dan pendampingan terbuka lebar bagi pengelola program di kabupaten/kota.
“Antusiasme petugas sangat baik. Kami dapat berdiskusi langsung mengenai persoalan yang dihadapi di lapangan, sekaligus mencari solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing kabupaten dan kota,” katanya.
Kolaborasi antara Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas, dan rumah sakit menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan program HIV dan IMS. Perbedaan fokus di setiap wilayah menunjukkan agenda disusun berdasarkan persoalan nyata yang ditemukan di lapangan.