GORONTALO — General Motors menyatakan Cadillac CT5-V Blackwing tidak lagi bersaing head-to-head dengan BMW atau Mercedes-Benz di segmen sedan performa. Tony Roma, Executive Chief Engineer Corvette dan Performance Cars GM, menyebut Blackwing kini dibuat murni sebagai mobil yang mereka sendiri ingin beli. Pernyataan itu muncul di siniar The Drivecast, menandai pergeseran strategi Cadillac setelah sekitar 23 tahun mengejar dominasi sedan sport Jerman.
Perubahan arah itu disampaikan Tony Roma saat menjawab pertanyaan soal nilai merek sebuah sedan mewah bermesin V8 dengan transmisi manual. Menurut Roma, Blackwing bukan lagi proyek untuk membuktikan Cadillac setara kompetitor Eropa. "We're not competing head-to-head with anyone anymore," ujarnya dalam episode terbaru The Drivecast.
Pernyataan itu menegaskan posisi CT5-V Blackwing sebagai salah satu sedan performa terakhir yang mempertahankan kombinasi penggerak roda belakang, mesin V8, dan gearbox manual. Kombinasi yang kini nyaris punah di pasar sedan sport global.
Roma menolak anggapan bahwa Blackwing berdiri sebagai lini terpisah di bawah Cadillac. Ia menempatkannya sebagai kelanjutan langsung dari V-Series. "The Blackwing is really an extension of the V-Series, it's not its own sub-brand. It's V-Series Blackwing," katanya.
Ia mengaku terlibat dalam hampir seluruh pengembangan sedan Cadillac selama hampir 25 tahun terakhir. Menurut Roma, V-Series berperan penting mereposisi Cadillac sebagai merek mewah modern di mata konsumen Amerika.
Cadillac memulai ambisi menantang pabrikan Jerman sejak debut CTS generasi pertama sekitar 23 tahun lalu. Roma mengakui Cadillac saat itu menjadi merek mewah full-line terakhir yang belum punya entri performa. "We were kind of the last full-line luxury brand to not have a performance entry," ujarnya.
Peta kompetisi berubah drastis. Roma menyoroti bagaimana BMW M5 dan rival Eropa lain kini memakai penggerak semua roda, berukuran lebih besar, dan bertumpu pada teknologi hybrid. Bobot M5 masa kini jadi bahan leluconnya.
Kondisi itu justru membalik narasi lama. Sedan Amerika yang ringan dan lincah kini berhadapan dengan sedan Jerman yang lebih berat dan bertenaga besar. "What world do we live in now that that's kind of the way it is?" kata Roma.
Roma menegaskan CT5-V Blackwing dan CT5 biasa dibuat berdasarkan selera tim internal GM sendiri. Ia memakai analogi es krim untuk menjelaskan posisi produk ini di portofolio Cadillac.
"We're making a car that we want to buy. That's really the easiest way to look at it. So for Cadillac, that's the luxury car that we like, that's the flavor of ice cream that we want to sell to people, and people like our ice cream," katanya.
Ia menantang siapa pun untuk menyebut sedan lincah berpenggerak roda belakang dengan transmisi manual selain Blackwing. Menurut Roma, kemewahan kini berarti memiliki sesuatu yang unik dan berbeda, dan Blackwing masuk kategori itu.
Kabar baiknya, Roma kini memegang kendali atas pengembangan Blackwing berikutnya sekaligus lini Corvette. Cadillac sudah mengonfirmasi generasi baru CT5, CT5-V, dan Blackwing akan dibangun di atas platform penggerak roda belakang.
Yang lebih menarik, CT5-V generasi berikutnya akan mendapat opsi mesin V8 naturally aspirated dengan transmisi manual. Kombinasi itu makin langka di pasar sedan performa global, termasuk di Indonesia yang didominasi sedan mewah bermesin turbo dan hybrid.
Bagi penggemar sedan sport, pernyataan Roma menegaskan Blackwing tidak akan berubah jadi kendaraan kompromi demi mengejar angka penjualan. Cadillac memilih jalur berbeda dari kompetitor Jerman, dan untuk saat ini, jalur itu dipertahankan.