GORONTALO — Dorodjatun, nama kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX, lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912 dan menjabat Wapres RI kedua pada 24 Maret 1973 hingga 23 Maret 1978. Jalan menuju kursi nomor dua di republik itu terbilang mulus saat itu: ia calon tunggal dan didukung banyak tokoh nasional. Namun raja Yogyakarta tersebut justru memilih menolak.
Alasan Penolakan yang Disampaikan Langsung ke Soeharto
Saat ditanya Soeharto soal alasannya menolak mendampinginya di Pemilu 1978, jawaban Dorodjatun terkesan diplomatis. Soeharto menuliskan pertanyaannya dalam autobiografi tersebut.
"Saya tanyakan, apa sebabnya. Apa ada pertentangan? 'Tidak', jawabnya," tulis Soeharto.
Menurut Soeharto, Dorodjatun menilai dirinya lebih baik berada di luar lembaga tinggi negara untuk ikut mempersatukan bangsa. Posisi di luar pemerintahan dinilai membuatnya lebih fleksibel bergerak.
Adam Malik Gagal Membujuk, Lalu Menggantikan Posisinya
Sahabat karib Dorodjatun, Adam Malik, sempat membujuknya agar bersedia kembali maju, tetapi gagal. Adam Malik menilai Dorodjatun memegang teguh filosofi Sabda Pandita Ratu: ucapan seorang pemimpin adalah janji yang pantang ditarik kembali.
Ironisnya, Adam Malik-lah yang kemudian menggantikan posisi Dorodjatun sebagai Wapres. Sebelum menerima tawaran itu, Adam Malik meminta saran kepadanya. Dikutip Tirto.id dari majalah Intisari (12 Mei 2015), Dorodjatun secara tersirat melarang sahabatnya menerima pinangan Soeharto.
"…karena Anda akan menyesal."
Adam Malik tetap mengambil jalan tersebut dan resmi mendampingi Soeharto.
Tak Nyaman dengan Protokol Istana hingga Faktor Kesehatan
Buku "Sang Demokrat Hamengku Buwono IX: Dokumen Setelah Sri Sultan" (1988) mengungkap alasan lain di balik penolakan itu. Selama menjabat, Dorodjatun merasa tidak nyaman dengan berbagai tetek bengek protokol istana. Faktor kesehatan juga kerap disebut sebagai salah satu alasan ia menepi.
Keinginannya kembali dekat dengan rakyat tertuang dalam salah satu pernyataannya: "Hanya dapat dilaksanakan jika saya melepaskan diri dari 'hambatan resmi' yang melekat pada kedudukan Wakil Presiden."
Hubungan dengan Soeharto Ibarat Air dan Minyak
Di balik alasan-alasan normatif itu, ada faktor utama yang diyakini menjadi akar masalahnya. Hubungan antara Dorodjatun dan Soeharto digambarkan ibarat air dan minyak dalam satu wadah: tampak tenang di pemerintahan yang sama, tapi mustahil menyatu secara prinsip dan ideologi.
Eks Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif pada 2013 mengonfirmasi hal itu, dikutip dari Tirto.id. Menurutnya, Dorodjatun sangat menyadari bahwa perilaku Soeharto selama menjabat Presiden RI tidak semuanya benar.
"Beliau tahu, atasannya, presiden, menyimpang, tapi diam saja," ungkap Syafii Maarif.
Peringatan Dorodjatun kepada Adam Malik seolah menjadi bukti kuat adanya ketidakcocokan politik dan prinsip antara sang Sultan dan sang Jenderal. Walau begitu, Raja Yogyakarta ini memilih mengubur segalanya dalam hati dan melawan "Raja Jawa" tanpa membuat kegaduhan.
Hingga ia mengembuskan napas terakhir pada 2 Oktober 1988, alasan pasti mengapa Dorodjatun enggan bertahan di lingkar kekuasaan Orde Baru tetap menjadi misteri yang masih abu-abu.