GORONTALO — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka melemah ke level Rp17.610 per dolar AS. Penurunan 63 poin itu setara 0,36 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang domestik sejalan dengan kecenderungan di kawasan Asia.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Hampir seluruh mata uang utama di kawasan bergerak melemah terhadap dolar AS. Hanya yuan China, won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong yang menguat tipis.
- Yen Jepang melemah 0,05 persen
- Dolar Singapura turun 0,02 persen
- Baht Thailand terkoreksi 0,13 persen
- Peso Filipina melemah 0,29 persen
- Rupee India turun 0,36 persen
- Ringgit Malaysia melemah 0,25 persen
- Yuan China menguat 0,01 persen
- Won Korea Selatan naik 0,18 persen
- Dolar Hong Kong menguat 0,01 persen
Pergerakan serentak itu menunjukkan tekanan terhadap mata uang regional masih cukup kuat. Setiap negara menghadapi kondisi pasar masing-masing, tetapi arah dolar AS menjadi faktor penentu utama.
Biaya Impor dan Aktivitas Ekonomi Jadi Perhatian
Fluktuasi kurs dolar AS berdampak langsung pada biaya impor dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada mata uang asing. Pelaku pasar akan mencermati sentimen global untuk menentukan arah dolar AS terhadap mata uang negara berkembang.
Dalam kondisi seperti ini, rupiah berpotensi bergerak volatil sepanjang sesi perdagangan. Investor memantau perkembangan pasar global dan regional untuk menentukan posisi mereka.
Proyeksi: Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.540–Rp17.590
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan berfluktuasi pada perdagangan hari ini.
"Rupiah berpotensi kembali melemah dan bergerak dalam kisaran Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS," ujar Ibrahim.
Perkiraan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih dapat berlanjut. Arah pergerakannya sangat bergantung pada sentimen pasar yang berkembang sepanjang hari.
Investasi mengandung risiko.