Pencarian

Investasi Pariwisata Rp73,56 Triliun, 76,5% Masih di Jakarta dan Bali

Jumat, 11 September 2026 • 18:33:31 WIB
Investasi Pariwisata Rp73,56 Triliun, 76,5% Masih di Jakarta dan Bali
Investasi pariwisata nasional mencapai Rp73,56 triliun dengan 76,5% terkonsentrasi di Jakarta dan Bali.

GORONTALO — Dari jumlah yang menumpuk di dua wilayah itu, sekitar 75% mengalir ke pembangunan hotel dan restoran. Artinya, diversifikasi bisnis wisata di luar akomodasi dan kuliner masih tipis.

Destinasi Prioritas Jadi Sasaran Baru Investor

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan pemerintah tengah mengarahkan investor asing dan mitra internasional ke 13 Destinasi Prioritas serta 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Tujuannya, memunculkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah, bukan hanya di dua magnet lama.

Sejumlah insentif disiapkan untuk memancing minat. Mulai dari tax allowance, fasilitas untuk industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk bagi peralatan wisata dan yacht.

Danau Toba hingga Lombok Mulai Menarik Kunjungan

Pergeseran pola perjalanan wisatawan membuka peluang pemerataan itu. Pada awal 2026, kunjungan ke Danau Toba melonjak lebih dari 106%. Lombok–Gili Tramena menyusul dengan pertumbuhan 72,1%.

Labuan Bajo juga terus berkembang sebagai destinasi dengan prospek investasi. Tren ini berjalan seiring naiknya kontribusi pariwisata ke ekonomi nasional: PDB sektor ini tumbuh dari Rp729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp1,14 kuadriliun pada 2025, dan ditargetkan Rp1,19 kuadriliun pada 2026.

Sumatra Barat Tawarkan Tiga Klaster Investasi

Sumatra Barat termasuk daerah yang mulai menyodorkan alternatif di luar pusat konvensional. Gubernur Mahyeldi menyebut kunjungan wisatawan nusantara mencapai 14,9 juta orang sepanjang Januari–Juli 2026, dengan sektor akomodasi serta makanan dan minuman tumbuh 17,57%.

Pemda membagi peluang investasi ke dalam tiga klaster: Mentawai untuk wisata surfing, Padang dan Mandeh untuk wisata bahari serta MICE, dan Sawahlunto untuk wisata sejarah dan budaya.

Infrastruktur Layanan Jadi Kunci Konversi

Pelaku usaha dan mitra internasional menilai destinasi saja tidak cukup. Infrastruktur layanan harus dibangun agar potensi wisata berubah menjadi aktivitas ekonomi nyata.

Duta Besar Italia untuk Indonesia Roberto Colaminè menyoroti kebutuhan fasilitas kesehatan di kawasan wisata bahari, termasuk hyperbaric chamber untuk mendukung destinasi selam.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia James Riady menilai tantangan utama Indonesia bukan lagi kekayaan destinasi, melainkan mengubah potensi menjadi kedatangan wisatawan, lama tinggal, belanja, investasi, lapangan kerja, dan kunjungan berulang.

Pemerataan investasi pariwisata pun menjadi agenda strategis untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus memperbesar kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional.

Follow gorontalo24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: topik.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks