GORONTALO — Survei Brand Watch 2026 dari Kelley Blue Book (KBB) memotret perubahan perilaku konsumen otomotif Amerika Serikat: minat terhadap SUV hybrid kini mengungguli EV murni. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan indikator bahwa pertimbangan praktis seperti harga, infrastruktur pengisian, dan biaya kepemilikan jangka panjang mulai mengalahkan daya tarik teknologi baru.
Data ini penting untuk dibaca pasar Indonesia, karena pola adopsi kendaraan elektrifikasi di sini biasanya mengikuti tren global dengan jeda beberapa tahun. Jika konsumen di negara dengan insentif EV sebesar AS mulai ragu, bagaimana dengan pembeli di sini yang belum tentu punya akses charger di rumah?
KBB menemukan alasan utamanya adalah kecemasan akan nilai jual kembali (resale value) dan biaya penggantian baterai
yang masih belum pasti. Pembeli SUV pada segmen harga menengah ke atas cenderung mempertimbangkan total cost of ownership, bukan hanya konsumsi energi per kilometer.Selain itu, utilitas harian menjadi pertimbangan besar. SUV hybrid menawarkan fleksibilitas penuh: tetap bisa dipakai untuk perjalanan jauh antar kota tanpa harus berhenti lama di stasiun pengisian. Sementara EV, meski efisien di dalam kota, masih menjadi pilihan kedua untuk perjalanan lintas provinsi di Indonesia karena infrastruktur yang belum merata.
Survei ini juga menunjukkan bahwa kebiasaan pengisian bahan bakar tidak bisa diubah hanya dengan janji efisiensi. Konsumen yang terbiasa mengisi bensin dalam lima menit belum siap mengubah rutinitasnya menjadi menunggu 30-40 menit di fast charging station, meskipun biaya per kilometernya lebih murah.
KBB mencatat bahwa pembeli melihat hybrid sebagai "jembatan" yang masuk akal. Mereka tetap mendapatkan efisiensi bahan bakar yang lebih baik dari mobil konvensional, tanpa harus berkompromi dengan jarak tempuh atau waktu pengisian. Ini adalah poin yang sering diabaikan oleh pabrikan yang terlalu agresif memasarkan EV murni.
Bagi konsumen Indonesia yang sedang mempertimbangkan mobil elektrifikasi, data ini menjadi pengingat untuk tidak terjebak pada jargon "masa depan" tanpa menghitung kebutuhan aktual. Jika mayoritas pemakaian Anda adalah dalam kota dengan jarak di bawah 50 km per hari, EV tetap masuk akal. Namun jika mobil sering dipakai untuk mudik atau perjalanan dinas antar kota, SUV hybrid seperti Toyota Fortuner Hybrid atau Wuling Almaz Hybrid yang beredar di sini menawarkan ketenangan pikiran yang tidak bisa diberikan EV murni.
Pabrikan yang membaca data ini dengan benar akan mulai menyeimbangkan strategi mereka. Alih-alih memaksa konsumen beralih penuh ke EV, mereka akan lebih fokus menghadirkan varian hybrid yang harganya tidak terlalu jauh dari versi bensin—karena pada akhirnya, keputusan pembelian selalu jatuh pada hitungan matematis di atas kertas, bukan pada misi lingkungan semata.
Yang perlu diperhatikan: survei KBB ini mencerminkan pasar AS yang memiliki insentif pajak besar untuk EV. Di Indonesia, tanpa insentif yang setara, logika konsumen untuk memilih hybrid diperkirakan akan lebih kuat lagi. Namun, ketersediaan model hybrid di dealer lokal masih terbatas, dan selisih harganya dengan versi bensin seringkali masih di atas Rp 50 juta—angka yang sulit diterima pembeli jika hanya diiming-imingi penghematan BBM Rp 100 ribu per minggu.