GORONTALO — Harapan Leicester City untuk langsung kembali ke divisi dua kandas sudah di pekan pertama. Alih-alih tampil dominan, mereka justru kewalahan menghadapi semangat juang Nottingham County, tim promosi dari divisi empat. Sepanjang laga, lini belakang Leicester yang dihuni pemain mahal seperti Caleb Okoli dan Harry Souttar tampil canggung dan kerap melakukan kesalahan fatal.
Pertandingan baru berjalan enam menit ketika Alex McCarthy, kiper Leicester, nyaris membawa petaka. Upayanya membangun serangan dari bawah terlalu lambat, bola berhasil dipotong Ollie Cooper dan tembakannya membentur mistar gawang. Insiden ini menjadi awal dari serangkaian kesalahan yang membuat para pendukung Leicester menggeleng-gelengkan kepala.
Leicester sempat unggul mengejutkan melalui Jayden Joseph, namun keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Kembali karena kelalaian pertahanan yang tidak bereaksi cepat, Conor Grant dengan leluasa mencetak gol balasan dari jarak dekat. Kejadian ini memicu perbincangan hangat di media sosial, bahkan sebuah kompilasi kekacauan lini belakang Leicester menjadi viral.
Penampilan buruk Leicester tidak lepas dari kondisi internal klub yang sedang tidak stabil. Manajer Russell Martin mengakui timnya kesulitan mengatasi tekanan atmosfer pertandingan. "Sedikit kecemasan mulai merasuk, atmosfer di stadion berubah, dan itu pelajaran terbesar bagi kami," ujar Martin usai laga. "Jika kami tidak saling menjaga bola, seperti yang terjadi di akhir pertandingan, maka itu tidak akan cocok untuk kami.
Kekacauan di lapangan mencerminkan situasi klub yang tengah berada dalam transisi. Leicester dikabarkan tengah disiapkan untuk dijual oleh pemiliknya, King Power, dengan nilai lebih dari £200 juta. Padahal, klub hanya bermodal brosur penjualan yang menonjolkan sejarah 140 tahun, sementara performa di lapangan tidak menunjukkan nilai jual yang sepadan.
Di tengah dominasi pemain senior yang gagal tampil, ada secercah harapan dari para pemain muda. Will Alves, Jayden Joseph, dan Sammy Braybrooke menjadi tumpuan yang justru tampil paling menonjol. Ketiganya yang musim lalu dipinjamkan ke klub kasta ketiga dan keempat, menunjukkan keberanian dan semangat yang tidak dimiliki rekan-rekan setimnya yang lebih mahal.
Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa penurunan kasta dan penjualan aset membuka peluang bagi regenerasi. Namun, untuk bisa bersaing di Liga Satu, Leicester harus segera menemukan solusi atas kebuntuan lini depan dan rapuhnya pertahanan. Dengan kondisi skuad yang masih belum jelas, termasuk masa depan kapten Harry Souttar yang diminati klub Championship, perjalanan Leicester di musim ini diprediksi akan jauh lebih sulit dari perkiraan banyak orang.