GORONTALO — Operasi militer di Distrik Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, berlangsung sepanjang hari Minggu dengan mobilitas udara yang tinggi. Warga di Sugapa, ibu kota kabupaten, melaporkan belasan kali penerbangan helikopter keluar-masuk wilayah tersebut, dengan titik pendaratan utama di halaman Gereja Wanibugi yang selama ini kerap dijadikan lokasi pendaratan pesawat militer.
Informasi yang dihimpun dari laporan masyarakat menyebutkan, personel Satuan Tugas Operasi Habema telah menduduki sejumlah titik di distrik tersebut sejak hari ini. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari TNI maupun aparat keamanan setempat mengenai tujuan operasi dan jumlah pasukan yang dikerahkan.
Warga Diminta Waspada, Tim Kemanusiaan Disarankan Koordinasi
Sumber Suara Papua yang enggan disebutkan namanya mengimbau warga Distrik Ugimba untuk tetap waspada menyikapi situasi. Sumber yang sama juga menyarankan tim kemanusiaan segera berkoordinasi dengan aparat keamanan yang bertugas di Intan Jaya sebelum bergerak ke Ugimba.
Langkah koordinasi itu dinilai penting untuk memantau situasi, mendata kemungkinan adanya korban, serta memastikan keberadaan dan keselamatan masyarakat di distrik tersebut. Sejauh ini belum diperoleh konfirmasi independen mengenai kondisi warga sipil pascakedatangan aparat keamanan.
Pola Operasi Militer di Wilayah Konflik
Intan Jaya merupakan salah satu daerah dengan dinamika keamanan yang kompleks di Papua Tengah. Operasi Habema sendiri merupakan satuan tugas yang dibentuk untuk menangani gangguan keamanan di wilayah tersebut, dengan pola operasi yang kerap melibatkan mobilitas udara karena kondisi geografis yang sulit dijangkau.
Penggunaan helikopter militer dalam jumlah besar dalam satu hari menunjukkan skala operasi yang relatif masif. Gereja Wanibugi yang dijadikan titik pendaratan juga menegaskan bahwa lokasi tersebut berfungsi sebagai pos logistik dan pintu masuk personel ke wilayah pedalaman.
Belum ada keterangan mengenai durasi operasi ini akan berlangsung atau target yang ingin dicapai. Suara Papua terus berupaya mengonfirmasi perkembangan situasi ke berbagai pihak, termasuk Komando Daerah Militer yang membawahi wilayah tersebut.
Masyarakat di daerah penyangga seperti Sugapa dilaporkan tetap tenang, meski aktivitas penerbangan yang padat sepanjang hari sempat menimbulkan kekhawatiran. Beberapa warga memilih tetap berada di dalam rumah hingga situasi dinyatakan aman oleh aparat setempat.
Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan pusat dalam mengelola keamanan di Papua, khususnya dalam memastikan perlindungan terhadap warga sipil selama operasi berlangsung. Transparansi informasi dari aparat keamanan juga dinilai krusial untuk meredam spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.