Meriani Kadir Nahkodai KSBN Boalemo, Fokus Hidupkan Seni Budaya agar Tak Sekadar Seremonial

Penulis: Saiful  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:44:32 WIB
Meriani S. Kadir resmi dilantik sebagai Ketua DPD KSBN Boalemo periode 2026 di Grand Q Hotel Kota Gorontalo, Rabu (19/8/2026).

Meriani S. Kadir resmi menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Kabupaten Boalemo periode 2026. Ia dilantik bersama jajaran pengurus di Grand Q Hotel Kota Gorontalo, Rabu (19/8/2026), dan langsung menegaskan prioritas kepengurusannya: menghidupkan seni budaya lokal di tengah masyarakat, bukan hanya saat acara seremonial.

GORONTALO — Organisasi seni dan budaya di Kabupaten Boalemo memasuki kepengurusan baru. Meriani S. Kadir dikukuhkan sebagai Ketua DPD KSBN Boalemo periode 2026 oleh Ketua DPW KSBN Provinsi Gorontalo, Dr. Alwaritsz Akili Nggole, di Grand Q Hotel Kota Gorontalo, Rabu (19/8/2026).

Dalam struktur kepengurusan yang baru dilantik, Meriani didampingi Andriyanto R. Bakari sebagai sekretaris dan Mey Suaiba sebagai bendahara.

Menjauh dari Pola Kegiatan Seremonial

Meriani menegaskan arah kepengurusannya berbeda dari sekadar menggelar pentas tahunan. Ia ingin KSBN Boalemo menjadi ruang kerja bersama bagi seniman, budayawan, komunitas, dan pelajar.

“KSBN Boalemo harus hadir sebagai rumah bersama bagi para seniman dan budayawan. Kita ingin budaya daerah tidak hanya tampil ketika ada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat,” ujar Meriani dalam keterangannya, Rabu.

Menurutnya, kekayaan seni dan budaya Boalemo harus terus dikembangkan agar menjadi identitas daerah yang diwariskan lintas generasi.

Strategi Menjangkau Generasi Muda

Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup disebut sebagai tantangan terbesar dalam pelestarian budaya. Meriani menilai pendekatan lama tidak lagi cukup untuk menarik minat anak muda.

“Kita tidak bisa hanya meminta generasi muda mencintai budaya dengan cara-cara lama. Budaya harus dikemas secara kreatif, menarik dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai dan jati dirinya,” katanya.

Ia menekankan bahwa regenerasi menjadi kunci agar budaya tetap hidup dalam jangka panjang. Anak muda harus diposisikan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton.

“Kalau kita ingin budaya tetap hidup 10, 20 bahkan 50 tahun ke depan, maka anak-anak muda harus dilibatkan sejak sekarang. Mereka bukan hanya penonton, tetapi harus menjadi pelaku dan penerus kebudayaan,” ujarnya.

Pendataan dan Dokumentasi Jadi Langkah Awal

Langkah konkret pertama yang didorong Meriani adalah inventarisasi kekayaan budaya Boalemo. Tradisi, kesenian, cerita sejarah, bahasa, musik, tarian, hingga kearifan lokal perlu dicatat secara sistematis agar tidak punah.

“Kita ingin mulai dari pendataan dan dokumentasi. Apa yang kita miliki harus diketahui, dicatat dan diwariskan,” tegasnya.

Untuk merealisasikan program tersebut, KSBN Boalemo membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh adat, pelaku seni, media, dan masyarakat.

Target Dampak Nyata bagi Ekonomi Kreatif

Meriani tidak ingin keberadaan KSBN Boalemo diukur dari frekuensi kegiatan. Ia mendorong agar program yang dijalankan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, termasuk membuka peluang di sektor ekonomi kreatif.

“Ukuran keberhasilan kita bukan seberapa banyak kegiatan yang kita laksanakan, tetapi seberapa besar dampaknya,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh seniman, budayawan, komunitas, dan pemerhati budaya di Boalemo untuk bergabung dalam upaya kolektif ini.

“Ini bukan pekerjaan satu dua orang. Ini pekerjaan bersama. KSBN Boalemo terbuka untuk siapa saja yang ingin menjaga, mengembangkan dan memperkenalkan kekayaan seni budaya Boalemo,” pungkasnya.

Reporter: Saiful
Sumber: kawaltuntas.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top