Sebuah gerakan berkebun durian yang digagas Ading Suhana sejak 2017 berhasil mengubah mata pencaharian warga Desa Cempaka Putih, Gorontalo Utara. Kini, hanya sekitar 4 persen warga yang masih menggantungkan hidup dari hasil hutan, turun drastis dari sebelumnya yang mencapai 70 persen.
GORONTALO UTARA — Barisan pohon durian montong kini menghiasi lahan warga Desa Cempaka Putih, Kecamatan Tolinggula. Tanaman itu bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan simbol perubahan pola hidup masyarakat yang dulu sulit lepas dari ketergantungan pada kayu dan rotan di hutan.
Gerakan ini berawal dari kegelisahan Ading Suhana, yang kala itu masih menjabat aparat desa. Ia melihat aktivitas warga mengambil hasil hutan bak pisau bermata dua: memenuhi kebutuhan ekonomi hari ini, tetapi mengancam keberlanjutan hutan untuk anak cucu.
“Saya dan teman-teman berpikir, kalau keadaan ini dipertahankan, di samping hutan akan habis, kami juga tidak ada tabungan untuk masa depan anak cucu,” ujar Ading.
Gagasan itu mulai menemukan jalan ketika dana desa tersedia. Ading mengusulkan kepada kepala desa agar anggaran digunakan membeli sekitar 4.000 bibit durian varietas montong. Usulan itu sempat menuai keraguan, banyak warga yang tidak yakin durian bisa tumbuh subur di wilayah mereka.
Keraguan itu justru menjadi tantangan. Bibit ditanam, pohon dirawat, dan waktu menjadi saksi atas kesabaran warga.
Momentum berubah pada 2018 ketika Ading terpilih sebagai kepala desa. Pengembangan durian tidak lagi sekadar gerakan sukarela, melainkan diperkuat melalui kebijakan resmi pemerintah desa.
Setiap tahun, anggaran desa dialokasikan untuk pengadaan bibit, pupuk, dan peralatan pertanian. Bibit didatangkan dari sejumlah daerah, termasuk Magelang, Jawa Tengah, dan Bangka Belitung.
Warga yang memiliki lahan menjadi prioritas penerima bantuan. Mereka mendapatkan bibit untuk ditanam, pupuk untuk perawatan, serta peralatan untuk mengelola kebun. Pola ini perlahan mengubah cara pandang warga terhadap profesi petani.
“Pelan-pelan masyarakat berpikir, oh, ini berarti ada dukungan pemerintah. Jadi kita tinggalkan pelan-pelan kegiatan di hutan,” kata Ading.
Kesabaran warga mulai membuahkan hasil pada 2020 hingga 2022. Produksi durian mencapai sekitar 200 ton setiap musim. Awalnya, buah hanya dipasarkan di pasar lokal, tetapi pada 2023 sejumlah pembeli dari Sulawesi Tengah datang langsung ke petani dan membeli dalam jumlah besar.
Hadirnya pembeli dari luar daerah memberi dampak langsung terhadap pendapatan warga. Durian tidak lagi sekadar tanaman bantuan pemerintah desa, tetapi sumber ekonomi yang tumbuh seiring perubahan pola hidup masyarakat.
Desa Cempaka Putih kini dihuni sekitar 113 kepala keluarga atau sekitar 314 jiwa. Selain durian, warga juga mengembangkan alpukat, tetapi durian tetap menjadi komoditas paling dominan dan simbol perubahan yang paling mudah dilihat.
Meski angka ketergantungan pada hasil hutan sudah turun drastis, Ading belum merasa cukup. Targetnya sederhana tetapi tidak ringan: menjadikan angka itu nol persen.
Pohon-pohon durian yang kini tumbuh di lahan warga menjadi jaminan masa depan. Sebagian telah menghasilkan buah, sebagian lainnya masih menunggu waktu. Namun, kehadirannya menjadi pilihan nyata agar warga tidak perlu kembali masuk hutan untuk mencari kayu dan rotan.