TEHERAN — Pemerintah Iran menegaskan komitmennya untuk bertahan di tengah tekanan eksternal yang disebut sebagai perang berskala penuh. Presiden Masoud Pezeshkian mengakui situasi yang dihadapi negerinya saat ini tidak seimbang, namun ia menolak anggapan bahwa Iran akan runtuh seperti Venezuela di bawah tekanan asing.
"Kami sedang menghadapi perang ekonomi, militer, dan keamanan berskala penuh," kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan kantor berita IRNA pada Minggu (23/8).
Pernyataan Pezeshkian muncul setelah Trump mengeluarkan ancaman untuk menjatuhkan sanksi paling berat kepada Iran. Pezeshkian mengutip langsung perkataan Trump tersebut, "Trump dengan mudah mengatakan AS akan menjatuhkan sanksi paling berat atau paling mengerikan kepada Iran."
Meski menghadapi tekanan, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran justru menjelma menjadi kekuatan yang mengagumkan melalui perlawanan dan solidaritas. "Musuh menilai jika Iran jatuh, maka negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Hal itu tidak terjadi, Iran justru menjadi kekuatan yang mengagumkan lewat perlawanan dan solidaritas," tegasnya.
Di tengah eskalasi tekanan ekonomi dan keamanan, pemerintah Iran disebut tengah bekerja keras menjaga persatuan nasional. Langkah ini ditempuh untuk menghindari perpecahan internal yang bisa dimanfaatkan pihak luar.
Pemerintah berkomitmen penuh untuk terus melayani masyarakat di tengah situasi perang yang tidak seimbang tersebut.
Ketegangan kedua negara kembali memuncak setelah perundingan tindak lanjut nota kesepahaman antara Iran dan AS menemui jalan buntu. Perselisihan yang muncul berkaitan dengan skema navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.
Sebelumnya, Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan itu ditujukan untuk mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari, dengan kedua pihak sepakat melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan akhir.