KOTA GORONTALO — Pemerintah Provinsi Gorontalo menegaskan komitmennya mempertahankan layanan tol laut dan kapal perintis yang menjadi urat nadi distribusi barang serta mobilitas warga di kawasan Teluk Tomini. Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah meminta agar seluruh trayek yang telah berjalan, termasuk layanan angkutan ternak, tidak terputus dan kembali diusulkan dalam penetapan jaringan pelayanan tahun depan.
Usulan tersebut telah disampaikan langsung kepada Menteri Perhubungan. Pemerintah daerah menilai keberadaan kapal perintis bukan sekadar alat transportasi, melainkan instrumen pengendalian inflasi dan pembuka akses pasar bagi komoditas lokal.
Saat ini, ada sejumlah kapal perintis yang rutin melayani penumpang dan barang dari Pelabuhan Gorontalo, Boalemo, serta Kwandang. KM Sabuk Nusantara 76 melayani rute Gorontalo–Luwuk–Banggai–Bacan–Ternate pulang pergi, sementara KM Sabuk Nusantara 83 menghubungkan Gorontalo dengan Banggai, Sanana, hingga Namlea di Ambon.
Dari Pelabuhan Kwandang, KM Sabuk Nusantara 97 menjadi andalan konektivitas menuju Sulawesi Tengah bagian utara hingga Kalimantan Utara. Adapun dari Boalemo, KM Sabuk Nusantara 113 melayani trayek Tilamuta–Banggai–Kolonedale–Makassar dengan singgah di Bumbulan pada perjalanan kembali.
Kepastian paling dinanti pelaku usaha peternakan datang dari Kementerian Perhubungan untuk tahun 2026. KM Cemara Nusantara 05 yang berpangkalan di Pelabuhan Kwandang akan kembali melayani rute Kwandang–Tarakan–Balikpapan–Kupang–Banjarmasin–Kwandang.
Layanan ini menjadi kunci program agromaritim, membuka akses pemasaran ternak Gorontalo ke sejumlah daerah tujuan di Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur. Pemerintah daerah menilai pengangkutan dalam jumlah besar melalui kapal dapat meningkatkan efisiensi distribusi ternak secara signifikan.
Keberlanjutan layanan ini dinilai krusial karena tarif yang ditawarkan relatif terjangkau. Subsidi pemerintah membuat biaya distribusi barang dari Gorontalo ke daerah lain menjadi lebih kompetitif, sekaligus menekan harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen.
Bagi masyarakat, kapal perintis menjadi alternatif transportasi antarpulau yang murah, terutama menuju daerah yang belum memiliki pilihan moda transportasi memadai. Kelancaran arus barang ini juga menjaga ketersediaan pasokan dan mengurangi tekanan biaya logistik yang kerap memicu inflasi.
Gusnar–Idah memandang keberlanjutan tol laut harus menjadi agenda yang terus diperjuangkan. Sebagian besar layanan perintis bergantung pada kebijakan dan penetapan jaringan pelayanan oleh Pemerintah Pusat, sehingga Pemprov Gorontalo akan terus mengusulkan dan mengawal agar trayek yang ada diperpanjang pada setiap tahun anggaran.
Dengan konektivitas yang terjaga, pembangunan ekonomi tidak lagi terpusat di perkotaan, tetapi menjangkau wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses. Hasil pertanian, perikanan, dan produk UMKM diharapkan makin mudah dikirim ke pusat-pusat ekonomi di Sulawesi, Maluku, hingga Kalimantan.