GORONTALO — Keputusan ini menjadi gebrakan pertama CEO baru Lucid, Silvio Napoli, yang resmi menjabat pada 1 Juni lalu. Napoli sebelumnya memimpin Schindler Group, perusahaan lift dan eskalator asal Swiss. Dalam pernyataan resmi, Lucid menyebut restrukturisasi akan "menyederhanakan perusahaan, mempertajam eksekusi, dan membuat Lucid lebih kompetitif ke depannya."
Kepergian Eksekutif Kunci dan Hilangnya Posisi COO
Marc Winterhoff, yang menjabat sebagai CEO interim selama lebih dari setahun, juga meninggalkan perusahaan. Lucid menghapus posisi chief operating officer (COO) sepenuhnya. Winterhoff akan menerima pesangon, "dukungan keamanan tertentu," dan boleh membawa pulang mobil perusahaan.
Kepergiannya melengkapi daftar panjang eksekutif yang hengkang. Pendiri dan mantan CEO Peter Rawlinson mundur mendadak pada Februari 2025. Chief engineer Eric Bach dipecat pada akhir 2025 dan menggugat Lucid atas pemutusan hubungan kerja sepihak. Emad Dlala, eksekutif senior lainnya, mengundurkan diri awal bulan ini hanya beberapa bulan setelah promosi.
Biaya Operasional Bengkak, Penjualan Jeblok
Lucid melaporkan memiliki 9.000 karyawan global sebelum PHK 12% pada Februari. Gelombang PHK kali ini menyasar karyawan tetap, kontraktor, dan pekerja produksi per jam. Perusahaan memperkirakan penghematan tahunan sekitar US$158 juta dari langkah ini, dengan biaya pesangon mencapai US$32 juta.
Penghentian shift kedua di Casa Grande menjadi sinyal paling jelas soal permintaan yang lesu. Lucid memproduksi 5.500 kendaraan pada kuartal I-2025, tetapi hanya mengirimkan 3.093 unit. Target produksi 25.000 unit per tahun pun sudah diragukan sejak Mei, saat laporan internal menunjukkan lonjakan stok yang tidak terjual.
Nasib Lucid Bergantung pada SUV Cosmos
Satu-satunya harapan Lucid kini adalah Cosmos, SUV massal pertama yang dibanderol mulai di bawah US$50.000. Model ini dijadwalkan meluncur akhir tahun dan diharapkan membawa perusahaan ke jalur profitabilitas. Tim redaksi baru-baru ini memotret Cosmos sedang diuji di dekat pabrik Casa Grande, berdampingan dengan Tesla Model Y—kompetitor utamanya.
Lucid juga tengah menjajaki kemitraan robotaxi dengan Uber dan Nuro di San Francisco, serta menambahkan fitur hands-free driving pada SUV Gravity. Namun, perusahaan menolak mengonfirmasi apakah program-program tersebut akan dikurangi anggarannya.
Pendanaan Saudi Jadi Penopang Terakhir
Lucid mayoritas dimiliki oleh Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, yang telah menggelontorkan miliaran dolar untuk menjaga perusahaan tetap hidup. Tanpa suntikan dana itu, dua gelombang PHK besar dalam satu tahun kemungkinan sudah memicu krisis eksistensial.
Seperti ditulis pembaca Denverguy di kolom komentar: "Sungguh menyedihkan melihat Lucid dalam situasi ini. Semua orang ingin mereka sukses. Tapi mobil mereka terlalu mahal bagi kebanyakan orang, dan membeli Air bekas sekarang sangat berisiko."
Masalah Lucid bukan pada rekayasa teknis. Air dan Gravity adalah mobil yang mengesankan, dan unit penggerak Atlas untuk Cosmos adalah pencapaian teknik sejati. Masalahnya selalu pada permintaan, biaya, dan eksekusi. Dan PHK tidak pernah menyelesaikan persoalan permintaan.
Cosmos kini menjadi taruhan segalanya. Jika SUV seharga di bawah US$50.000 itu bisa laku keras melawan Model Y, langkah efisiensi ini akan disebut disiplin. Jika tidak, ini bukan kali terakhir kita mendengar kata "penyederhanaan" dari Lucid.