GORONTALO — Rentetan insiden keracunan yang diduga berasal dari makanan program prioritas pemerintah ini tersebar dari Pulau Jawa hingga Sulawesi. Jumlah korban terbanyak dilaporkan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang mencapai 730 orang, menyusul kasus di Rembang dengan 750 korban yang terdiri dari 725 siswa dan 25 guru.
Dari pantauan CNNIndonesia.com, kasus serupa juga menimpa 334 warga di Agam, Sumatera Barat, 136 siswa di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, serta 100 pelajar di Nganjuk, Jawa Timur. Para korban umumnya mengeluhkan gejala mual, muntah, diare, dan pusing setelah mengonsumsi menu yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Angka 730 korban di Sidoarjo merupakan akumulasi dari santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah Kecamatan Tanggulangin. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmita Herawati, merinci hingga Kamis (3/9) pukul 15.10 WIB sebanyak 23 orang masih menjalani rawat inap dan 706 orang telah berobat jalan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Tana Toraja mencatat 136 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale tersebar di tiga rumah sakit berbeda. Sekretaris Daerah Tana Toraja yang juga Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo, mengonfirmasi adanya siswa yang dirawat namun belum menyimpulkan penyebabnya sebagai keracunan sebelum pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan.
Dugaan awal penyebab gangguan kesehatan ini mengarah pada tata kelola distribusi makanan. Di Sidoarjo, BGN melaporkan SPPG setempat tidak menyertakan label waktu makanan matang pada kemasan ompreng secara lengkap, sehingga memicu keterlambatan penyajian. Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, menceritakan temuannya saat proses verifikasi menu di Rembang. Pihaknya menemukan satu porsi ayam bakar bertekstur berlendir yang kemudian disisihkan.
"Saya klarifikasi ke SPPG itu masaknya jam 3 pagi dini hari, sementara anak-anak itu konsumsinya jam 12," ujar Juhartutik. Insiden di Rembang ini sempat melumpuhkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada Kamis (3/9) karena para murid dan guru mengalami gejala mual serta diare. DPRD Rembang telah meninjau Puskesmas Lasem dan menunggu hasil penelusuran Dinas Kesehatan.
Menghadapi tekanan publik yang meningkat, BGN mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara operasional dapur SPPG yang terlibat dalam seluruh insiden. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, meminta sekolah untuk berkoordinasi dengan SPPG Begadung 2 di Nganjuk selama proses evaluasi berlangsung.
Kepala BGN Sudaryono mengakui rentetan kejadian ini menjadi pukulan berat bagi program andalan pemerintah tersebut. Ia memastikan perbaikan tata kelola akan segera dilakukan menyeluruh.
"Tentu kami sangat terpukul sebetulnya, tapi kami tidak boleh menyerah. Insyaallah ini kami perbaiki semua tata kelolanya, aturannya, penataan keuangannya, dan lain sebagainya," kata Sudaryono usai rapat dengan Komisi IX DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis malam. Ia menambahkan, dugaan pelanggaran pidana dalam kasus ini kini diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum yang sedang melakukan penyelidikan.