GORONTALO — Citra satelit Himawari-9 pada Rabu (14/10) pukul 11.00 Wita menunjukkan asap menyebar di sebagian besar Pulau Sulawesi. Di Gorontalo, asap terpantau di Kabupaten Bone Bolango, Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan sebagian Kabupaten Pohuwato.
Selain Gorontalo, asap juga terdeteksi di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. BMKG Gorontalo mencatat sebaran asap di wilayah tersebut bergerak ke arah Barat–Barat Laut, mengikuti pola angin yang umumnya bertiup dari timur–tenggara menuju barat laut–utara.
Hingga Kamis (15/10), BMKG mencatat konsentrasi partikulat PM2.5 kategori tidak sehat di dua lokasi. Di Maros, Sulawesi Selatan, konsentrasi mencapai 117,7 µg/m3. Sementara di Lore Lindu, Sulawesi Tengah, tercatat 91,5 µg/m3.
Satuan µg/m3 atau mikrogram per meter kubik digunakan untuk menyatakan konsentrasi zat atau polutan di udara dan media gas lainnya. Angka tersebut menjadi dasar penilaian kualitas udara yang dirilis BMKG.
Pergerakan asap dipengaruhi pola angin musiman yang bertiup dari timur–tenggara ke barat laut–utara. Kondisi ini membuat sebaran asap tidak hanya terpusat di satu wilayah, tetapi meluas melintasi batas provinsi di Pulau Sulawesi.
Wilayah Gorontalo yang berada di jalur pergerakan angin menerima dampak langsung. Enam kabupaten dan kota di provinsi itu terpantau tertutup asap pada waktu yang bersamaan.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak asap agar mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang harus beraktivitas di luar diminta menggunakan masker, terutama kelompok rentan.
Kelompok rentan yang dimaksud mencakup anak-anak, lansia, dan warga dengan kondisi kesehatan pernapasan. Paparan partikulat dalam waktu lama dapat memperburuk kondisi mereka.
Hingga informasi ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat sebaran asap di Gorontalo maupun wilayah lain di Sulawesi.