GORONTALO — Pemerintah Kabupaten Gorontalo menegaskan pengembangan pisang gapi tidak berhenti seiring berakhirnya Program UPLAND. Rapat evaluasi di Hotel Aston Gorontalo menjadi forum meninjau capaian program sekaligus membahas langkah lanjutan setelah periode pelaksanaannya usai. Kegiatan itu dihadiri Wakil Bupati Gorontalo, Sekretaris Daerah, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah desa pengampu program, penyuluh pertanian, fasilitator, serta akademisi dan pakar pertanian.
Program UPLAND merupakan inisiatif pembangunan pertanian terpadu yang menyasar wilayah dataran tinggi. Di Kabupaten Gorontalo, program yang berlangsung pada 2021–2025 tersebut mendukung pengembangan pisang gapi sebagai komoditas pertanian potensial.
Sofyan menilai keberlanjutan program menentukan apakah investasi selama pelaksanaan UPLAND benar-benar memberi manfaat ekonomi bagi petani. Berakhirnya dukungan program, katanya, tidak boleh membuat pengelolaan komoditas maupun pendampingan di tingkat petani terhenti.
Infrastruktur pertanian, peralatan pengolahan, dan fasilitas pendukung yang dibangun melalui UPLAND perlu dikelola secara optimal. Pemanfaatan aset tersebut dinilai penting agar hasil investasi program berlanjut menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.
Pengembangan pisang gapi mencakup sejumlah kawasan, antara lain Dulamayo Selatan, Telaga Puncak, hingga Pulubala. Kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat produksi komoditas lokal sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan petani.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo melihat peluang pasar pisang gapi masih terbuka. Komoditas ini berpotensi memenuhi kebutuhan program gizi, menjadi pasokan bagi industri, serta diolah menjadi berbagai produk pangan oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Peluang tersebut dapat memperluas nilai ekonomi pisang gapi, terutama apabila petani tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memiliki akses pemasaran yang jelas.
Penguatan rantai pasok dan pendampingan petani menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Ketersediaan hasil panen harus didukung pengelolaan produksi yang terencana serta kemitraan dengan pihak yang berpotensi menyerap komoditas tersebut.
Sofyan mengingatkan bahwa keberlanjutan hasil program membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, fasilitator, dan pemerintah desa. Seluruh pihak diminta memastikan sarana dan prasarana yang telah tersedia tetap berfungsi serta mendukung kegiatan usaha tani.
"Evaluasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan program. Potensi pasar Pisang Gapi sangat luas, baik untuk pemenuhan program gizi, pasokan industri, maupun bahan baku UMKM olahan pangan lokal yang kian berkembang," ujar Sofyan.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo menekankan bahwa keberhasilan program pertanian tidak hanya diukur dari capaian selama masa pelaksanaan. Kemampuan petani dan pemangku kepentingan mempertahankan produktivitas setelah program berakhir menjadi penentu.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, pisang gapi diharapkan tidak sekadar menjadi hasil pertanian lokal. Komoditas ini berpeluang berkembang sebagai bahan baku industri dan produk olahan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat di Kabupaten Gorontalo.