LIMBOTO — Gubernur Gusnar Ismail datang didampingi Ketua TP-PKK Nani Ismail Mokodongan dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie. Kedatangan mereka disambut prosesi adat yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Gorontalo, Limboto.
Penganugerahan gelar Pulanga kepada Sofyan Puhi sebelumnya disepakati lewat Musyawarah Adat Dulohupa. Forum itu digelar para pemangku adat U Duluwo Limo Lopohalaa di Banthayo Poboide, Limboto, Jumat (9/10/2026).
Musyawarah adat menimbang rekam jejak Sofyan selama berkarier di legislatif dan pemerintahan. Kiprahnya dalam pelayanan publik dan pembangunan daerah menjadi dasar pemberian gelar.
Dalam tatanan budaya Gorontalo, Pulanga merupakan gelar kehormatan bagi tokoh yang dinilai berjasa kepada masyarakat. Gelar itu juga membawa amanah moral agar penerimanya menjaga kehormatan dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.
Gusnar menilai pelaksanaan adat yang baik memberi kesan positif bagi tamu yang berkunjung ke Gorontalo. Kesan itu muncul saat daerah ini menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional.
"Ketika kita melaksanakan kegiatan nasional di daerah ini, hampir 80 persen tamu yang hadir memberikan kesan mendalam adalah pelaksanaan adatnya yang baik. Sampai sekarang, hal itu masih menjadi perbincangan para tamu kenegaraan yang pernah datang atau berkunjung ke Provinsi Gorontalo," ujar Gusnar.
Ia menyebut julukan Serambi Madinah sebagai tanggung jawab untuk terus mengamalkan nilai adat istiadat. Menurutnya, pelestarian adat tidak cukup lewat prosesi seremonial.
"Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga, mengembangkan, dan melestarikan adat istiadat ini dengan sebaik-baiknya," tegasnya.
Nilai-nilai luhur warisan leluhur dinilai perlu tetap hidup sebagai pedoman generasi mendatang. Penganugerahan ini sekaligus menegaskan hubungan antara adat, agama, dan kehidupan bermasyarakat.
Falsafah Gorontalo yang dirujuk dalam prosesi itu berbunyi, "Adat bersendikan Syara', Syara' bersendikan Kitabullah."