GORONTALO — Pelemahan harga perak Antam ini membuat ukuran 250 gram dibanderol Rp 11.287.500, sementara ukuran 500 gram dipatok Rp 21.650.000 per keping. Produk yang tersedia di platform logammulia.com juga mencakup perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen.
Di pasar global, harga perak kontrak spot terpantau turun 0,62 persen ke level US$ 64,02 per ons pada hari yang sama. Penurunan ini merupakan kelanjutan dari pelemahan sesi sebelumnya, ketika pelaku pasar mulai merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Data Inflasi AS Mereda, Spekulasi Suku Bunga The Fed Melunak
Data ekonomi terbaru menjadi katalis utama pergerakan harga logam mulia pekan ini. Indeks Harga Produsen (PPI) inti AS pada Juli tercatat meningkat lebih rendah dari perkiraan analis. Laporan ini memperkuat sinyal dari data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dirilis Rabu lalu, yang menunjukkan inflasi AS naik 3,4 persen secara tahunan, turun dari 3,5 persen pada bulan sebelumnya.
Inflasi yang mendingin membuat pasar mengkalkulasi ulang probabilitas kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September kini turun drastis ke kisaran 34-35 persen, padahal pekan sebelumnya masih bertengger di angka 55 persen. Suku bunga yang lebih rendah umumnya menjadi angin segar bagi harga emas dan perak karena mengurangi biaya oportunitas memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, nada hawkish masih terdengar dari pejabat bank sentral. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menegaskan kembali perlunya menaikkan suku bunga "saat ini juga" dalam pernyataannya pada Rabu. Pernyataan ini membuat investor tetap waspada terhadap potensi perubahan arah kebijakan.
Konflik Timur Tengah dan Level Resistensi Tekanan Harga
Dari sisi geopolitik, upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz masih menemui jalan buntu. Situasi ini membuat pelaku pasar khawatir eskalasi konflik dapat mendorong lonjakan harga energi dan memicu kembali tekanan inflasi global, sebuah skenario yang bisa mengubah perhitungan investor terhadap aset logam mulia.
Sebelumnya, harga emas dunia juga mengalami koreksi hampir 1 persen pada Kamis (13/8/2026) setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni di US$ 4.449,39 per ons. Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, mengungkapkan bahwa level US$ 4.500 menjadi titik resistensi psikologis yang kuat bagi emas. "Harga sempat menyentuhnya dua kali dan kemudian anjlok dari titik tersebut; saat ini, para pedagang merasa waswas saat harga mendekati level 4.500," ujarnya.
Analis independen Tai Wong menambahkan, lonjakan harga emas hingga 9 persen dalam sepekan terakhir didorong pembelian dari Tiongkok dan sektor ritel. Kini, aksi ambil untung terjadi di sekitar level rata-rata pergerakan 100 hari. Koreksi harga logam mulia ini menjadi sinyal bagi pasar domestik bahwa momentum reli jangka pendek tengah diuji oleh faktor teknis dan fundamental makroekonomi yang bercampur.