GORONTALO — Angka 84,08 itu bukan sekadar statistik. Menurut penilaian terbaru KemenPANRB, skor tersebut mencerminkan perbaikan nyata dalam pelayanan publik, efisiensi anggaran, serta penyederhanaan birokrasi yang dinilai lebih lincah dan responsif. Transformasi ini disebut bukan lagi jargon, melainkan hasil kerja konkret jajaran aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Gorontalo.
Kenaikan indeks RB sebesar 6,35 poin dalam setahun bukanlah perkara mudah. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut baik capaian ini dan meminta agar informasi tersebut disebarluaskan ke publik sebagai bentuk transparansi kinerja pemerintah.
“Terima kasih untuk semuanya. Setelah ini langsung dibuat rilis agar beritanya bisa dimuat, bekerja sama dengan Kominfo,” kata Gusnar dalam rapat pimpinan, Selasa (19/5/2026) malam.
Namun, berada di puncak prestasi justru menghadirkan tekanan baru. Mempertahankan angka 84,08 dan terus meningkatkannya ke depan akan menjadi ujian sinergi yang sesungguhnya bagi seluruh jajaran Pemprov Gorontalo.
Pemerintah provinsi menegaskan bahwa reformasi birokrasi adalah mesin utama penggerak pembangunan. Dengan birokrasi yang sehat, program-program strategis untuk menyejahterakan rakyat dapat dieksekusi lebih cepat dan tepat sasaran.
“Mau dibaca atau tidak, pada akhirnya orang pasti akan mencari tahu. Tugas kita adalah terus mengisi dan menyajikan informasi,” lanjut Gusnar, merujuk pada pentingnya pengelolaan media sosial dan informasi publik yang tidak boleh terganggu.
Capaian ini menjadi bukti konkret komitmen ASN dalam menerjemahkan visi Gubernur dan Wakil Gubernur untuk mewujudkan Gorontalo yang Maju dan Sejahtera.
Bagi masyarakat, dampak langsung dari reformasi birokrasi ini adalah kecepatan dan kemudahan dalam mengurus administrasi. Mulai dari perizinan hingga layanan dasar, sistem yang lebih sederhana diharapkan memangkas waktu dan biaya yang selama ini membebani warga.
Pemerintah Provinsi Gorontalo kini berada di fase krusial: membuktikan bahwa perubahan ini berkelanjutan. Masyarakat menjadi saksi bahwa birokrasi yang bersih, melayani, serta responsif bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong.