GORONTALO — Bentang alam Desa Luluo di Kecamatan Biluhu tidak hanya menyuguhkan panorama, tetapi juga menjadi fondasi ekonomi masyarakat. Wilayah yang membentang dari lereng perbukitan hingga pesisir laut dalam ini menggerakkan dua sektor sekaligus: pertanian di darat dan perikanan di laut, yang secara langsung menghidupi sebagian besar warganya.
Di sektor agraris, komoditas cengkeh menjadi salah satu primadona. Tanaman varietas Maluku dan Tolitoli ini dibudidayakan di lahan seluas 1 hingga 7 hektare dengan siklus panen raya yang terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali. Ketika musim panen tiba, harga cengkeh di tingkat petani bisa melonjak hingga Rp160.000 per kilogram, meski di luar musim pasokan kerap menipis dan harga berfluktuasi.
Selain cengkeh, sektor hortikultura juga berperan penting. Cabai lokal Gorontalo dibudidayakan secara intensif dan bisa dipanen hingga lebih dari 10 kali dalam satu siklus tanam, dengan total produksi mencapai ratusan kilogram. Tanaman ini menjadi sumber pendapatan rutin bagi petani di sela-sela menunggu panen cengkeh.
Kelapa juga menjadi komoditas andalan yang ditanam di pekarangan dan lahan perkebunan. Setiap tiga bulan, petani dapat memanen 800 hingga 1.000 butir kelapa. Seluruh proses budidaya dilakukan dengan komitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan, yakni mengandalkan bahan-bahan organik alami tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.
Meski potensi produksi besar, para petani masih menghadapi sejumlah kendala teknis di lapangan. Serangan hama penggerek batang dan populasi kutu daun kerap mengganggu pertumbuhan tanaman. Di perkebunan kelapa, keberadaan sarang lebah liar justru menjadi momok tersendiri karena menyulitkan proses pemanenan.
Persoalan lain muncul dari tata niaga. Hingga kini, mayoritas hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah tanpa melalui proses pemilahan atau standardisasi mutu. Transaksi didominasi oleh tengkulak lokal dengan sistem pembayaran tunai, sementara keterbatasan pupuk dan aksesibilitas lahan turut menghambat pengembangan agribisnis.
Di sisi lain, keberadaan desa yang berhadapan langsung dengan perairan laut dalam membuka peluang besar di sektor kelautan. Ikan tuna dan cakalang menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga berpotensi untuk diekspor. Sementara itu, ikan kembung dan layang mendominasi kebutuhan konsumsi harian masyarakat.
Dinamika musim menjadi penentu utama aktivitas nelayan. Pada Agustus hingga September, kondisi cuaca yang bersahabat membuat intensitas bongkar muat ikan di kawasan perairan desa meningkat drastis. Nelayan setempat memanfaatkan teknologi lokal sederhana namun efektif, seperti rumpon berbahan styrofoam yang berfungsi menarik kawanan ikan kecil, yang kemudian memicu berkumpulnya ikan komersial berukuran besar seperti cakalang dan tuna.
Pada malam hari, bagan apung dengan sistem pencahayaan khusus dioptimalkan untuk memusatkan kawanan ikan sebelum jaring diangkat. Metode ini terbukti efisien dan menjadi tulang punggung operasional penangkapan ikan di desa tersebut.
Ke depan, keberlanjutan dua sektor ini sangat bergantung pada penguatan kelembagaan kelompok tani dan nelayan. Penyediaan sarana produksi yang memadai serta kepastian rantai pasok menjadi langkah krusial yang perlu segera dijawab. Jika tantangan ini dapat diatasi, Desa Luluo berpotensi menjadi contoh nyata bagaimana harmoni antara alam agraris dan maritim mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.