GORONTALO — Dari gaya rambut hingga mainan, tren era 1980-an memang kerap terlihat janggal jika dilihat dari kacamata sekarang. Dunia teknologi konsumer tidak luput dari fenomena ini. Berikut delapan perangkat paling tidak biasa yang pernah dijual bebas di pasaran kala itu.
Komputer Nabati: Mr. Health-O-Meter
Di era sebelum smartphone dan aplikasi kesehatan, Epson merilis komputer khusus dapur bernama Mr. Health-O-Meter pada 1984. Alat ini dirancang untuk menghitung kalori dan nilai gizi dari bahan makanan yang dimasukkan penggunanya.
Keanehannya terletak pada fitur "kesegaran sayuran". Perangkat ini mengklaim bisa mengukur tingkat kematangan buah dan sayur lewat sensor yang terintegrasi. Hasilnya? Tidak akurat dan lebih sering membuat bingung pemiliknya.
TV yang Dipakai di Kepala: Seiko TV Watch
Seiko, yang lebih dikenal sebagai produsen jam tangan, meluncurkan TV Watch pada 1982. Ini adalah televisi berukuran sangat kecil yang dipasang di pergelangan tangan, lengkap dengan earpiece untuk audio.
Layarnya hanya 1,2 inci dan harus dilihat dari jarak sangat dekat. Resolusi gambar buruk, dan baterainya hanya bertahan sekitar satu jam. Meski begitu, produk ini dianggap sebagai cikal bakal wearable device modern seperti smartwatch.
Ponsel Raksasa: Motorola DynaTAC 8000X
Sebelum Nokia dan BlackBerry mendominasi, Motorola merilis ponsel komersial pertama di dunia pada 1983: DynaTAC 8000X. Bobotnya mencapai hampir satu kilogram dengan panjang sekitar 33 sentimeter.
Dijuluki "the brick" atau batu bata, perangkat ini hanya bisa menyimpan 30 nomor kontak dan baterainya bertahan 30 menit untuk bicara. Harganya saat itu sekitar 3.995 dolar AS, atau setara dengan lebih dari Rp 65 juta jika disesuaikan dengan inflasi saat ini.
Kamera Instan Langsung Cetak: Polaroid OneStep
Polaroid OneStep yang populer di era 80-an menawarkan kemudahan mencetak foto langsung setelah jepretan. Teknologi ini terbilang revolusioner sebelum era fotografi digital.
Keanehannya terletak pada hasil foto yang harus digoyang-goyangkan selama beberapa menit agar gambar muncul sempurna. Banyak pengguna menganggap ritual "menggoyang foto" ini sebagai bagian dari pengalaman, meski secara teknis tidak diperlukan untuk proses pengembangan kimia di dalam kertas.
Robot Mainan yang Bisa Ngobrol: Tomy Verbot
Tomy merilis Verbot pada awal 1980-an, sebuah robot mainan yang bisa dikendalikan lewat perintah suara. Bedanya dengan mainan biasa, Verbot bisa merespons hingga delapan perintah verbal berbeda.
Sayangnya, teknologi pengenalan suara saat itu sangat primitif. Robot ini sering salah merespons perintah jika suara pengguna sedikit berubah, apalagi jika ada suara bising di sekitar. Verbot lebih sering membuat frustrasi daripada menghibur.
Keyboard yang Bisa Dilipat: Casio PB-1000
Casio PB-1000 adalah komputer saku yang dirilis pada 1987. Keunikannya terletak pada keyboard yang bisa dilipat menjadi dua bagian, membuatnya lebih portabel dibanding komputer jinjing (laptop) pada zamannya.
Layarnya hanya 4 baris karakter dengan tulisan monokrom. Untuk ukuran masa itu, perangkat ini dianggap canggih karena bisa diprogram dengan bahasa BASIC. Namun, fungsionalitasnya sangat terbatas untuk pekerjaan produktif modern.
Pemutar Kaset dengan Layar: Sony Walkman WM-20
Sony Walkman adalah ikon portabel musik, tetapi model WM-20 yang dirilis 1985 memiliki keanehan tersendiri. Perangkat ini dilengkapi layar LCD kecil yang menampilkan informasi lagu yang sedang diputar.
Masalahnya, layar tersebut hanya bisa menampilkan teks jika kaset yang digunakan memiliki strip data khusus. Sebagian besar kaset biasa tidak mendukung fitur ini, sehingga layar hanya gelap atau menampilkan angka yang tidak berarti.
Kacamata Audio: Soundview SV-5
Soundview SV-5 adalah kacamata hitam yang dilengkapi speaker mini di kedua gagangnya. Dirilis pada akhir 1980-an, perangkat ini memungkinkan pengguna mendengarkan musik tanpa headphone yang menutup telinga.
Suara yang dihasilkan sangat kecil dan mudah hilang di tengah kebisingan jalan. Kacamata ini juga harus dihubungkan dengan kabel ke pemutar kaset di saku pengguna, membuatnya tidak praktis untuk dipakai bergerak. Produk ini menjadi salah satu contoh awal konsep audio wearable yang gagal secara komersial.
Dari delapan gadget di atas, sebagian besar kini hanya dikenang sebagai barang antik atau koleksi museum. Namun, beberapa konsepnya—seperti wearable display, ponsel portabel, dan asisten suara—ternyata menjadi fondasi bagi teknologi yang kita nikmati saat ini. Bagi penggemar teknologi retro, perangkat-perangkat ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu langsung sempurna.