Anggota DPD RI Fadel Muhammad mengenang sejarah transformasi IKIP Gorontalo menjadi Universitas Negeri Gorontalo saat melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Sabilullarasyad, Jumat (1/5/2026). Didampingi Gubernur Gusnar Ismail, mantan Gubernur Gorontalo tersebut mengapresiasi perkembangan pesat kampus yang kini menjadi pusat pendidikan utama di Indonesia Timur.
GORONTALO — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Sabilullarasyad di lingkungan Kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) pada Jumat siang (1/5/2026). Kehadiran dua tokoh sentral pembangunan Gorontalo, Anggota DPD RI Fadel Muhammad dan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, menarik perhatian ratusan jamaah yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta warga sekitar.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal. Bagi Fadel Muhammad, menginjakkan kaki di UNG membawa memori kolektif tentang masa-masa awal berdirinya provinsi dan upaya memperkuat fondasi pendidikan daerah. Usai menunaikan ibadah Shalat Jumat berjamaah, Fadel berdiri di hadapan sivitas akademika untuk berbagi kisah di balik berdirinya universitas kebanggaan masyarakat Serambi Madinah tersebut.
Fadel menceritakan bahwa jalan menuju perubahan status dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Gorontalo menjadi universitas penuh dengan tantangan birokrasi dan keterbatasan sumber daya pada masa itu.
Dalam sambutannya, Fadel Muhammad mengungkapkan rasa haru bisa kembali ke tengah-tengah lingkungan kampus. Ia menyebut UNG memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan perjalanan karier politik dan pengabdiannya di Gorontalo.
“Kembali ke kampus UNG ini rasanya seperti pulang. Saya teringat betul perjuangan dulu saat masih jadi Gubernur Gorontalo. Kampus ini masih IKIP, kecil dan terbatas. Kita berjuang mati-matian agar naik status menjadi Universitas Negeri Gorontalo,” kenang Fadel di hadapan Rektor UNG Eduart Wokok dan para jamaah.
Fadel menekankan bahwa keberhasilan mengubah status kampus tersebut merupakan salah satu tonggak sejarah penting bagi kemajuan sumber daya manusia di Gorontalo. Ia secara khusus menyinggung peran kepemimpinan nasional saat itu yang memberikan restu bagi pengembangan institusi pendidikan di daerah.
“Itu bukan kerja saya sendiri, tapi kerja kita semua. Perjuangan kolektif orang Gorontalo,” ujarnya. Ia pun menyebut momen paling bersejarah adalah ketika Presiden Megawati Soekarnoputri membubuhkan tanda tangan pada Keputusan Presiden mengenai perubahan status IKIP menjadi UNG.
Melihat kondisi fisik kampus saat ini, raut wajah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu tampak sumringah. Ia mengaku tidak menyangka perkembangan UNG bisa sepesat sekarang, baik dari sisi infrastruktur maupun kualitas akademik yang diakui secara nasional.
Pandangan Fadel sempat tertuju pada kemegahan kubah dan menara Masjid Sabilullarasyad yang berdiri kokoh di area kampus. Menurutnya, keberadaan fasilitas ibadah yang representatif mencerminkan keseimbangan antara aspek intelektual dan spiritual di lingkungan universitas.
“Saya senang sekali melihat perkembangan UNG sekarang. Termasuk masjid Sabilullarasyad ini, sudah sangat baik, nyaman, dan menjadi pusat kegiatan mahasiswa. Ini bukti perjuangan kita dulu tidak sia-sia,” tutur Fadel Muhammad. Baginya, kenyamanan fasilitas kampus akan berbanding lurus dengan semangat belajar para mahasiswa.
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail yang turut mendampingi dalam kegiatan tersebut memberikan penekanan pada pentingnya menjaga warisan perjuangan para tokoh daerah. Gusnar menilai UNG bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan aset strategis yang menentukan masa depan ekonomi dan sosial Gorontalo.
Pemerintah Provinsi Gorontalo terus berkomitmen untuk mendukung setiap inovasi yang lahir dari rahim universitas. Gusnar berharap sinergi antara pemerintah daerah dan pihak kampus terus diperkuat guna melahirkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global namun tetap memiliki akar budaya lokal yang kuat.
“UNG adalah aset penting Gorontalo. Kita ingin kampus ini terus melahirkan pemikir-pemikir besar yang berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” ungkap Gusnar Ismail singkat.
Kegiatan Shalat Jumat berjamaah ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh imam masjid. Seluruh jamaah mendoakan agar kemajuan yang telah dicapai UNG saat ini dapat terus berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi kesejahteraan masyarakat Gorontalo di masa depan.